Senin, 29 November 2010

Selasa,30 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)-Cinta yang Mengubah Hidup Manusia

Pepatah mengatakan, cinta bisa mengalahkan segalanya. Hal tersebut sepertinya dihayati benar oleh Antonio Cassano yang mengaku dirinya kini telah berubah dan tak lagi bengal, gara-gara cinta.
Terkenal sebagai salah satu pesepakbola paling bengal di Italia, Cassano menunjukkan prilaku di luar dugaan banyak orang selama Piala Eropa lalu. Nyaris tak terdengar berita negatif seputar tindak-tanduk striker Sampdoria itu selama di Austria-Swiss.
Soal sikap santun yang belakangan ditunjukkan, Cassano mengaku dirinya sudah berubah. Kalau dulu sanksi dari klub dan hukuman berupa denda tak membuatnya jera, kunci untuk menjinakkan Cassano ternyata ada pada Carolina Marcialis, wanita yang dipacarinya dalam beberapa bulan terakhir.

Tentang hal ini, ia berkata, “Carolina Marcialis telah mengubah hidup saya. Saya mencintai malaikat ini. Karena dialah saya tak lagi bersikap seperti yang sudah-sudah karena saya tak ingin mengecewakan dia.”

Pada awalnya kisah cinta dua insan ini sempat mengalami hambatan. Karena status Cassano yang cuma pinjaman dari Real Madrid, kepulangan sang pemain ke Spanyol akan membuat hubungan mereka kandas.

Ia berkata, “Saya sangat bahagia. Jika saya tidak bertahan di Genoa saya pikir kisah cinta ini bisa bertahan, saya katakan ini dengan sangat hormat pada Carolina. Saya sangat takut kalau saya harus kembali ke Madrid, jadi saya menunggu mencoba menikmatinya. Sekarang saya dipastikan bertahan, saya tak bisa berbicara tentang wanita lain di kehidupan saya.”

Cinta itu kuat laksana air yang deras yang menguasai hidup manusia. Orang yang mengandalkan cinta di atas segala-galanya akan dikuasai oleh cinta itu. Namun yang dibutuhkan adalah cinta yang tulus dan murni. Bukan cinta yang egois yang hanya mementingkan diri sendiri.

Cinta yang murni itu biasanya cinta yang menumbuhkan harapan. Orang memiliki harapan yang besar untuk senantiasa bertahan dalam cinta yang murni itu. Orang juga memiliki kepastian dalam hidup ini, karena orang yang dicintai itu tidak bermain-main dengann cinta.

Cinta yang murni itu biasanya membahagiakan. Orang mengalami kebahagiaan dalam hidupnya, karena ia mendapatkan cinta dari sesamanya. Tetapi kebahagiaan itu terjadi dalam hidup seseorang, karena ia juga mampu mencintai sesamanya dengan cinta yang tulus pula.

Kisah Antonio Casano menjadi contoh bagi kita bahwa cinta itu mesti dapat mengubah hidup manusia. Cinta yang tulus dan murni itu membawa perubahan dalam hidup manusia dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Untuk itu, orang beriman mesti selalu membuka hatinya kepada Tuhan untuk diisi oleh rahmat dan cinta Tuhan. Mari kita bertumbuh dalam cinta yang murni, agar hidup kita dapat berubah ke arah yang lebih baik. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ

Minggu, 28 November 2010

Senin,29 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)-Mendidik Hati Nurani

Suatu hari seorang anak membuang sampah di halaman rumah tetangganya. Sampah itu berupa kotoran sapi yang sangat banyak. Hal tersebut menimbulkan bau yang tidak sedap bagi tetangganya itu. Melihat hal itu, pemilik rumah itu sangat marah. Lantas ia menegur anak itu.
Namun anak itu tidak mau mendengarkan teguran itu. Ia bahkan berbalik marah terhadap pemilik rumah itu. Ia merasa diri tidak bersalah. Ia merasa benar. Terjadilah pertengkaran di antara mereka. Pemilik rumah itu merasa heran, mengapa anak itu merasa tidak bersalah. Padahal ia melakukan sesuatu yang tidak senonoh terhadap orang lain. Sampah, apalagi kotoran sapi, itu mesti dibuang pada tempatnya.
Melihat kondisi itu, pemilik rumah itu mengalah. Ia tidak mau bertengkar dengan orang yang tidak tahu sopan santun. Beberapa saat kemudian, anak itu pulang ke rumah dan melaporkan kejadian itu kepada kakaknya. Tanpa pikir panjang, kakaknya mendatangi tetangganya itu dengan sebuah golok. Tidak banyak bicara, ia langsung menghujamkan goloknya ke pemilik rumah itu. Untung, sang istri langsung menangkap golok itu. Kalau tidak, kepala suaminya yang kena bacok. Akibatnya, telapak tangannya hampir putus.
Sang kakak itu tidak merasa bersalah atas perbuatan kejinya. Pemilik rumah itu tidak mau menerima kejadian itu. Ia menuntut kakak dari anak itu bertanggung jawab atas perbuatannya. Setelah berrembug dengan alot, akhirnya, jalan damai dilakukan. Kakak dari anak itu mesti mengganti semua pengobatan atas luka yang diderita oleh istri pemilik rumah itu. Ia menyesali perbuatannya. Namun nasi telah menjadi bubur.

Kisah ini mau mengatakan kepada kita bahwa hati nurani manusia mulai mati terhadap sesama. Dalam kehidupan bersama semestinya orang saling menghargai dan menghormati. Apalagi dalam hidup bertetangga. Tetangga yang baik itu sebenarnya jauh lebih dekat daripada keluarga besar yang tinggal jauh dari kita. Tetangga yang saling peduli merupakan harta yang lebih berharga daripada harta benda yang kita miliki.

Karena itu, dibutuhkan suatu pendidikan hati nurani. Hati nurani yang baik dan bersih akan membantu manusia dalam membangun relasi dengan sesamanya. Orang yang memiliki hati nurani yang baik itu memberi kesempatan bagi sesamanya untuk selalu bertumbuh dan berkembang. Ia tidak akan merusak hubungan yang baik dengan sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar relasi kita dengan sesama terjalin dengan baik dan harmonis. Untuk itu, kita mesti mendidik hati nurani kita untuk peka terhadap orang-orang di sekitar kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi sahabat bagi sesama kita. Kita dapat menjadi orang-orang yang membawa sukacita bagi sesama di sekitar kita. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ

Sabtu, 27 November 2010

Minggu,28 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)~Menaburkan Harapan

Seorang ibu tertegun memandang putrinya yang baru saja dilahirkannya. Ia tersenyum menatap mata anaknya yang begitu bening. Namun air matanya pun menetes satu per satu. Anak yang ia lahirkan itu ternyata cacat. Kakinya hanya sebelah. Meski begitu, ibu itu tetap mencintai anaknya.
Di telinga anak itu, ia berkata, “Nak, ibu menyayangimu. Ibu mencintaimu dengan segenap hati. Meski engkau lahir cacat, ibu tidak akan menolak engkau.”
Ia menggendong anaknya dengan penuh kasih. Tak terbersit sedikit pun rasa benci atau penolakan. Ia menerimanya apa adanya. Bayi itu telah ia pelihara selama sembilan bulan dalam kandungannya. Ia berjanji untuk membesarkan dan memberinya pendidikan yang sebaik-baiknya.

Suatu ketika, ibu itu mensharingkan pengalamannya. Ia mengatakan bahwa anak yang dikasihinya itu pemberian Tuhan. Tuhan menghendaki ia merawat anak itu dengan baik. Itulah tandanya ia mengasihi Tuhan dan sesama. Ia berkata, “Tuhan begitu baik kepadaku. Ia memberi saya seorang anak yang cacat, supaya saya dapat meneruskan kebaikan Tuhan itu.”

Inilah iman. Iman ibu itu telah meluputkan dia dari rasa benci atau menolak kehadiran buah hatinya yang cacat itu. Sumber iman itu ia timba dari Tuhan sendiri yang telah mengaruniakan seorang buah hati baginya. Masihkah iman seperti ini tumbuh dalam diri kita?

Dalam banyak peristiwa kita menyaksikan ada orang yang begitu putus asa menghadapi suatu kegagalan dalam hidup. Bahkan mereka sampai tega mengakhiri hidup ini dengan minum racun atau gantung diri. Seolah-olah tidak ada secercah harapan dalam hidup mereka. Mereka kehilangan iman dalam hidup ini. Mereka kehilangan Tuhan dalam hidup ini.

Tentu sebagai orang beriman, hal ini merupakan suatu tragedi besar dalam kehidupan manusia. Semestinya orang beriman itu memiliki sikap pasrah kepada Tuhan. Suatu penyerahan diri yang total kepada kehendak Tuhan. Dalam iman itu tumbuh kreativitas. Dalam iman itu muncul berbagai usaha dan upaya untuk keluar dari kesulitan hidup.

Iman semestinya membangkitkan semangat hidup untuk semakin berproses dalam hidup ini. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk berani membantu sesama yang berada dalam situasi putus harapan. Kita dipanggil untuk menaburkan harapan bagi mereka yang kehilangan harapan. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ

Kamis, 25 November 2010

Jumat,26 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)-Mengalirkan Kasih Tuhan


Seorang pengelana pernah menulis bahwa di suatu wilayah gurun terdapat dua buah danau yang dialiri oleh banyak sungai. Letak danau-danau itu tidaklah berjauhan, namun keduanya menampakkan perbedaan fenomena alam yang luar biasa.

Danau pertama adalah danau biasa berair tawar yang segar. Ia memiliki beberapa anak sungai yang mengalir ke hilir. Ia adalah danau sebagaimana danau lain dengan kehidupan sewajarnya.

Sedangkan danau kedua, yang lebih besar, menjadi keanehan yang tiada taranya. Ia tidak memiliki anak sungai yang mengalirkan airnya ke laut. Hanya sengat panas gurun yang menguapkan airnya. Tak heran, kandungan mineral dan garamnya amat tinggi. Begitu tinggi sehingga kita dapat mengapung di permukaan begitu saja. Hampir-hampir tidak ada kehidupan dalam danau itu. Pantaslah bila peta mencatatnya dengan nama "Laut Mati".

Hidup manusia itu bagai danau. Kalau manusia mau memberi hidup bagi orang lain, ia akan terus-menerus mengalirkan kasih. Ia selalu berkelimpahan meski ia selalu memberi kepada sesama. Rahmat Tuhan senantiasa menyertainya. Ia juga menjadi sahabat bagi banyak orang, karena ia dikenal sebagai orang yang murah hati.

Sebaliknya, manusia akan menjadi seperti danau yang beku, kalau ia tidak peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Banyak orang akan mengeluh berhadapan dengan orang seperti ini. Apa saja yang dibuat orang lain selalu salah dari sudut pandangnya. Hidup menjadi hambar. Tidak ada kasih yang mengalir dari diri orang ini. Orang seperti ini tidak pernah membuka tangannya untuk sesama. Tangannya selalu erat menggenggam.

Dalam kehidupan ini selalu saja muncul orang-orang yang begitu baik. Mereka selalu peduli terhadap sesamanya. Mengapa bisa terjadi? Karena pada dasarnya manusia itu baik. Manusia yang baik itu semestinya memiliki hati yang terbuka kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Manusia yang baik itu membiarkan Tuhan bekerja dalam dirinya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk tidak hanya berupaya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Kita diajak untuk berani membagikan apa yang kita punyai kepada orang lain di sekitar kita. Dengan cara ini, kita mampu mengalirkan kasih Tuhan kepada sesama. Kasih Tuhan itu selalu kita peroleh setiap saat. Kita ingin agar kasih Tuhan itu tidak hanya menjadi milik kita. Kita ingin kasih Tuhan itu juga menjadi milik sesama yang ada di sekitar kita. **


Frans de Sales, SCJ

Rabu, 24 November 2010

Kamis,25 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)-Menabur Kasih Dalam Hidup

Anne Frank adalah seorang gadis Yahudi yang mati di kamp konsentrasi Nazi Jerman. Di sana ia disiksa bersama ratusan ribu warga Yahudi pada masa Perang Dunia Kedua. Penderitaannya luar biasa hingga akhir hayatnya.
Namun aneh. Meskipun mengalami begitu banyak penderitaan, dalam buku hariannya Anne Frank menulis bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Padahal kekejaman tentara-tentara Nazi begitu luar biasa ia alami. Soalnya, mengapa manusia itu bisa berbuat jahat? Menurut Anne Frank, hal itu disebabkan karena manusia tidak bisa menjaga hati. Akibatnya, hati manusia itu menjadi rusak.
Berbuat dosa atau kejahatan itu mudah. Semudah orang membalikkan telapak tangannya. Melakukan kejahatan itu tidak perlu dipikirkan terlalu lama. Sekali lewat saja orang bisa jatuh ke dalam kejahatan yang sangat kejam. Peristiwa kamp konsentrasi di Ausswitch adalah salah satu contoh. Tempat ini menjadi saksi bisu sekitar satu juta orang Yahudi yang dibunuh dengan gas beracun. Adolf Hitler yang kejam telah menyebabkan kejahatan yang luar biasa hebat terhadap hidup manusia.

Lain halnya menabur kasih. Menabur kasih itu belum tentu mudah dilakukan. Banyak pikiran yang keluar masuk dalam benak manusia. Seolah-olah melakukan kebaikan itu sesuatu yang berasal dari diri manusia. Semestinya kebaikan itu berasal dari hati manusia yang jernih. Anne Frank mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Jadi kebaikan itulah yang semestinya menjadi bagian dari hidup manusia. Kebaikan itu mesti ditumbuhkembangkan dalam diri manusia.

Apa jadinya kalau manusia tidak membiarkan kebaikan dan kasih tumbuh dalam dirinya? Yang terjadi adalah hati yang rusak. Hati yang dikuasai oleh iri hati, permusuhan dan balas dendam. Manusia lebih dikuasai oleh dosa. Kasih hanya menjadi sebuah mimpi hampa. Kasih hanya menjadi dambaan manusia yang tak pernah terwujud.

Karena itu, manusia beriman mesti selalu mengasah kasih dalam hidupnya sehari-hari. Untuk itu, manusia mesti selalu mendengarkan firman Tuhan. Tuhan selalu berbicara kepada kita tentang kasih dan kebaikan dalam hari-hari hidup kita. Kalau kita sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan dan melaksanakannya dalam hidup kita, saya yakin hidup kita akan menjadi semakin baik. Kita akan selalu mendapat rahmat dan berkat Tuhan.

Kita mesti ingat bahwa pada dasarnya kita ini baik. Dosa dan kejahatan tidak berasal dari diri kita. Dosa itu berasal dari si jahat yang selalu berusaha untuk menjerumuskan manusia ke dalam kejahatan. Kalau kita bertahan dalam kebaikan dan kasih, si jahat tidak akan berani mendekati kita.

Mari kita berusaha untuk hidup baik di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan hidup baik itu kita menyebarkan kabar sukacita bagi sesama. **


Frans de Sales, SCJ

Selasa, 23 November 2010

Rabu,24 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)-Dalam Tangan Siapa? (sumber:www.indocell.net/yesaya)

Dalam Tangan Siapa?


Bola basket dalam tanganku berharga $19.
Bola basket dalam tangan Michael Jordan berharga $33 juta.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Baseball dalam tanganku berharga $6.
Baseball dalam tangan Mark McGuire berharga $19 juta.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Raket tenis tak ada gunanya dalam tanganku.
Raket tenis dalam tangan Venus Williams menghasilkan kemenangan dalam kejuaraan dunia.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Tongkat dalam tanganku menghalau binatang buas.
Tongkat dalam tangan Musa membelah lautan luas.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Ketapel dalam tanganku merupakan mainan anak-anak.
Ketapel dalam tangan Daud merupakan senjata dahsyat.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Lima roti dan dua ikan dalam tanganku menjadi beberapa potong roti isi.
Lima roti dan dua ikan dalam tangan Yesus memberi makan ribuan orang.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Paku-paku dalam tanganku menghasilkan sangkar burung.
Paku-paku dalam tangan Yesus Kristus menghasilkan keselamatan bagi segenap umat manusia.
Tergantung ada dalam tangan siapa.


Kau lihat sekarang, segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.
Jadi serahkan segala masalahmu, kekhawatiranmu, ketakutanmu,
harapan-harapanmu, impian-impianmu,
keluargamu, kawan serta sahabat-sahabatmu
dalam tangan Tuhan sebab…
segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.


Pesan ini sekarang ada dalam tanganmu.
Apa yang hendak KAU lakukan dengannya?

Tergantung ada dalam tangan siapa.


sumber:www.indocell.net/yesaya


Senin, 22 November 2010

Kuis Cinta:APA ITU CINTA?


Banyak orang menggunakan kata "cinta" secara keliru. Ketika seseorang mengatakan kepada yang lain "Aku cinta padamu, " seringkali yang dimaksudkannya ialah "Kamu membuat aku merasa bahagia." Sikap seperti ini adalah sikap yang mementingkan diri sendiri, bukan cinta sesungguhnya. Sebenarnya yang dikatakannya ialah, "Aku cinta diriku, dan kamu membuatku bahagia, jadi tinggallah bersamaku."

Jika demikian apa itu sesungguhnya cinta? Coba camkan ini:

Cinta itu murah hati serta sabar, ia tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong dan tidak melakukan yang tidak sopan. Cinta itu tidak mementingkan diri sendiri atau pun pemarah. Cinta tidak menyimpan kesalahan orang lain. Cinta bersukacita karena kebenaran, dan bukan karena ketidakadilan. Cinta senantiasa memberikan dukungan, setia, percaya segala sesuatu dan mengharapkan segala sesuatu. Cinta tidak pernah gagal!

Jadi cinta sejati adalah hal menginginkan orang lain bahagia, bukan menginginkan diri kita sendiri yang bahagia.

Berikut ini ada kuis sederhana. Lain kali jika kamu bercakap-cakap dengan seseorang yang katamu kamu cintai, cobalah hitung berapa kali kamu mengatakan kata "aku". Apakah kamu mengatakannya lebih dari dua kali dalam 5 menit percakapan? Gunakan tabel di bawah ini sebagai tolok ukur cintamu:

4 kali atau lebih :cintamu hanya mementingkan diri sendiri. Kamu perlu berubah.
3 kali :cintamu mungkin mementingkan diri sendiri.
2 kali  : cintamu mungkin tidak mementingkan diri sendiri.
1 kali atau kurang : cintamu tidak mementingkan diri sendiri.




sumber : News For Kids, Fr Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Richard Lonsdale.”