Rabu, 09 Februari 2011

Kamis,10 Februari 2011 (Inspirasi hari ini)-Belajar Mendengarkan Penderitaan Sesama

Seorang pemuda termasuk seorang yang cepat bergaul.Ia seorang yang sangat supel.Ia punya banyak teman di lingkungan sekitarnya.Ia di kenal baik oleh orang-orang di lingkungannya
Suatu malam,sepulang dari kuliah,ia tidak langsung masuk ke rumah,karena ada tetangga yang sedang asyik ngobrol.Lalu ia segera gabung dengan mereka dalam pembicaraan mereka.Ternyata lama-kelamaan ia semakin jauh terlibat.Dan baru ia ketahui bahwa salah seorang temannya pernah menggunakan ekstasi jenis popeye.Ia mengaku tidak merasa ada sugesti(kepingin) untuk mencoba lagi obat-obatan haram itu.Ketika ia tanyakan alasan ia meminum obat-obatan itu,ia mengaku karena malu cintanya ditolak cewek.

Persoalan bagi pemuda itu adalah apakah ia harus menjauhi temannya atau tetap berteman saja seperti biasa?Selama ini ia tidak pernah sekalipun menawarkan obat-obatan itu kepadanya.Yang membuat ia bingung adalah ada tulisan yang mengatakan pergaulan yang jahat merusak diri.

Menerima kehadiran oranglain tidaklah mudah.Apalagi orang yang mestinya diterima itu seorang yang berbuat jahat.Kiranya banyak orang akan menolak kehadiran orang yang berbuat jahat itu.Ketika seseorang mau menerima seorang yang berbuat jahat,banyak orang akan menolaknya.Inilah dilema yang sering dihadapi dalam hidup bersama.

Memang cara yang paling gampang adalah meninggalkan atau menolak teman-teman yang kedapatan melakukan suatu kejahatan.Kenapa pusing-pusing memikirkan mereka?Lagipula kalau bergaul dengan mereka nanti bisa-bisa kena getah dari tindakan mereka yang ilegal itu.Jangan ambil resiko bila itu membahayakan dirimu.
Saya yakin dengan sikap ini selesailah masalahmu.

Namun rasanya jawaban ini bukanlah yang dikehendaki.Orang mesti tanggap dan peka terhadap masalah sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya.Situasi itu sekaligus mendorong orang untuk ikut bertanggungjawab atas kesejahteraan masyarakat.Dengan cara ini,orang tidak perlu menjauhi teman-temannya yang melakukan hal ilegal.

Manusia diberi bekal untuk berkarya secara konkrit ditengah masyarakat yang sakit.Ini bisa menjadi suatu panggilan untuk berkarya ditengah panggilan mereka yang membutuhkan.Kemampuan untuk mendengarkan 'oranglain' yang berkisah tentang diri dan perjuangannya bisa menjadi kesempatan untuk membimbing sesama ke jalan yang benar.Membantu mereka keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi.

Dalam masyarakat di mana aspek individualistis dominan,banyak orang tidak mampu mendengarkan penderitaan oranglain dengan baik.Mereka sibuk dengan diri dan masalahnya sendiri-sendiri.Sebagai orang beriman,kita diajak untuk senantiasa memasang telinga kita untuk setiap bentuk penderitaan sesama.Kita mengulurkan tangan kita membantu mereka.Kita memberi mereka tempat untuk bangkit dari keterpurukan hidup mereka.Kita menerima kehadiran mereka.Tuhan memberkati.***


sumber:http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2009/10/belajar-mendengarkan-penderitaan-sesama.html

Selasa, 08 Februari 2011

Rabu,9 Februari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Teguh Pada Iman akan Tuhan

Menjelang Natal tiba, di beberapa gereja di Kota ini memberikan paket untuk orang miskin. Biasanya disebut Paket Natal. Tujuan utama dari paket ini sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama yang kekurangan. Biasanya banyak orang yang merasa masih kekurangan datang untuk mendapatkan paket ini. Isi paket ini berupa sembilan bahan pokok yang dapat membantu warga untuk kelangsungan hidup mereka.

Suatu kali, seorang bapak protes karena ia tidak kebagian paket. Padahal ia sangat membutuhkan paket itu untuk anaknya yang tinggal di desa. Menurutnya, anaknya itu orang yang tidak mampu yang sangat membutuhkan bantuan dari orang lain. Panitia yang mendengar pengaduannya memberikan tambahan paket bagi bapak itu.

Melihat hal itu beberapa orang lain iri. Mereka juga ingin mendapatkan tambahan paket. Mereka juga protes kepada panitia. Salah seorang anggota panitia meminta mereka untuk mengerti, karena mereka sudah mendapatkan paket. Lagi pula orang tidak bisa terlalu banyak menuntut. Ini kan pemberian. Jadi sebenarnya mereka tidak punya hak untuk menuntut. Diberi atau tidak, itu bukan urusan mereka. Akhirnya, mereka mau menerima penjelasan dari panitia.
Hari itu banyak orang merasakan kegembiraan dan kebahagiaan. Mereka mendapatkan perhatian dari sesama melalui Paket Natal itu. Orang-orang yang mendapatkan Paket Natal itu merasa puas. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang memiliki kemurahan hati bagi sesamanya.

Mengapa gereja mempunyai kepedulian terhadap sesama yang berkekurangan? Jawabannya sangat sederhana, yaitu karena Tuhan mencintai manusia. Tuhan memelihara hidup manusia dan menjaganya dari hari ke hari. Cara Tuhan memelihara kita manusia itu dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui sesama yang peduli terhadap orang lain di sekitarnya.

Tuhan mencintai manusia sedemikian rupa, sehingga Ia selalu melindunginya. Ke mana pun kita pergi, Tuhan senantiasa menjaga kita. Tuhan selalu peduli terhadap hidup kita. Tuhan tidak ingin kita mati binasa. Tuhan selalu menghendaki agar kita memiliki hidup bahagia di dunia ini dan di akhirat. Karena itu, kita tidak perlu takut kepada orang-orang yang ingin membinasakan hidup kita. Mereka hanya bisa membunuh tubuh yang fana ini. Mereka tidak bisa membunuh jiwa kita. Tuhan selalu melindungi kita.

Sebagai orang-orang beriman, kita dipanggil untuk senantiasa menyerahkan hidup kita ke dalam lindungan Tuhan. Artinya, kita ingin agar hanya kehendak Tuhan sendirilah yang selalu terjadi dalam diri kita. Memang ada begitu banyak tantangan dan godaan yang mesti kita hadapi dalam dunia ini. Namun kalau kita selalu berpegang teguh pada iman kita akan Tuhan, saya yakin kita akan tetap bertahan.

Mari kita membangun hidup yang senantiasa mengandalkan kehendak Tuhan yang mesti terjadi dalam hidup kita. Kita biarkan Tuhan terlibat dalam diri kita. Kita biarkan Tuhan menguasai seluruh hidup kita. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang selalu percaya kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



sumber:http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2009/10/teguh-pada-iman-akan-tuhan.html

Senin, 07 Februari 2011

Selasa,8 Februari 2011(Inspirasi Hari Ini)-Menjaga Komitmen Hidup Berkeluarga

Suatu pagi, seorang bapak datang kepada seorang pastor. Ia baru saja bertengkar dengan istrinya yang telah memberinya lima orang anak. Dia merasa sangat kesal terhadap istrinya. Menurutnya, istrinya telah merendahkan martabatnya sebagai seorang lelaki dan kepala keluarga. Karena itu, ia ingin menceraikan istrinya. Ia sudah bosan hidup dalam konflik terus-menerus dengan istrinya.

Kepada pastor, ia berkata, “Pastor, saya sudah tidak tahan lagi hidup dengan istri saya. Dia selalu meremehkan saya. Kalau boleh, saya menceraikan dia.”

Pastor itu tersenyum mendengar pengaduan bapak itu. Beberapa saat kemudian, ia berkata kepadanya, “Orang beriman itu mesti selalu setia. Apa pun situasinya.”

Bapak itu terkejut mendengar kata-kata pastor itu. Ia tidak percaya mendengar kata-kata pastor itu. Ia tahu dan sadar bahwa ia mesti selalu setia kepada istrinya. Tetapi kali ini ia sudah tidak sabar. Ia tidak ingin hidup lebih lama dengan istrinya. Lantas ia berkata, “Tetapi pastor, kesetiaan saya sudah habis. Apa saya harus memaksakan diri?”

Pastor itu tersenyum mendengar kata-kata bapak itu. Lalu ia berkata, “Bapak, tidak semua orang dipanggil dan dipilih untuk menjadi suami dari istri bapak. Pasti dia punya hal-hal yang sangat baik. Pasti dia punya keunggulan-keunggulan yang hanya boleh dimiliki oleh bapak. Cobalah setia kepadanya walaupun ia meremehkan bapak.”

Setiap orang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan untuk hidup bersama yang lain. Dalam kehidupan berkeluarga, setiap orang dipanggil secara khusus untuk menjadi suami atau istri untuk orang tertentu saja. Ada perbedaan-perbedaan yang begitu besar di antara dua insan yang membangun keluarga. Tetapi perbedaan-perbedaan itu menjadi rahmat yang menguatkan. Perbedaan-perbedaan itu menjadi kekayaan yang dapat digunakan untuk memajukan kehidupan berkeluarga.

Ada kalanya di antara dua insan itu terjadi kesalahpahaman. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal itu. Kalau ada konflik, mereka mesti dapat menyelesaikannya dengan kepala dingin. Konflik tidak diselesaikan dengan sensasi. Mereka mesti terus-menerus berusaha untuk menyelesaikan konflik itu. Tuhan menghendaki mereka tetap setia dalam panggilan hidup berkeluarga itu.

Untuk itu, setiap keluarga mesti tetap setia pada komitmen yang telah mereka ikrarkan pada saat perkawinan mereka. Ketika mereka menikah, mereka bersumpah setia satu sama lain dalam untung dan malang. Maka mereka mesti tetap setia pada komitmen itu. Mereka mesti memelihara komitmen itu dalam perjalanan hidup mereka.

Hidup berkeluarga itu juga suatu panggilan dari Tuhan. Tuhan menghendaki agar keluarga-keluarga membangun cinta kasih dan persaudaraan. Dalam konteks ini, suami istri dipanggil untuk saling menyucikan diri dengan saling mencintai. Ketidaksetiaan itu melukai hidup berkeluarga.

Karena itu, saya mengajak keluarga-keluarga untuk tetap bertahan dalam hidup berumah tangga. Yakinlah, Tuhan senantiasa menyertai dan memberikan rahmatNya bagi keluarga-keluarga. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ

Minggu, 06 Februari 2011

Senin,7 Februari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Dipanggil Menjadi Pembawa Keselamatan

Ada seorang bernama Cikwan. Ia pernah masuk penjara, karena perbuatannya yang keji. Ia pernah menjadi perampok di Lampung. Ia pernah menjadi preman yang ditakuti. Padahal dulu ia seorang penganut Agama Katolik yang taat. Ia setia mengikuti ibadat dan Perayaan Ekaristi.
Cikwan mengaku, ia melakukan hal itu karena rasa tanggung jawabnya terhadap istri dan anak-anaknya. Ketika ia merantau di Lampung, penghasilannya tidak cukup untuk hidupnya sendiri. Akibatnya, ia nekat. Ia menjadi preman dan mulai merampok untuk mempertahankan hidupnya. Suatu ketika, ia ditangkap polisi dan dijebloskan ke dalam penjara.

Di penjara itu, ia bertemu dengan seorang polisi yang seiman dengannya. Ia mendapat banyak nasihat dari polisi itu. Setelah masa tahanan selesai, ia pun kembali ke kampung halamannya. Ia berkumpul kembali dengan istri dan anak-anaknya yang sama sekali tidak tahu kegiatannya sebagai preman dan perampok. Mereka menerima kehadirannya dengan baik. Mereka mendorongnya untuk giat dalam kehidupan rohani.

Godaan untuk menjadi perampok terus-menerus mengiang di telinganya. Ia menahan diri terhadap godaan itu. Awalnya ia berhasil. Namun lama-kelamaan ia tidak bisa menahan diri. Ia jatuh lagi ke dalam dunia gelap kehidupan para preman dan perampok. Namun tidak lama ia hidup dalam dunia gelap itu. Ia dapat keluar dari situasi itu. Menurut Cikwan, hal itu terjadi karena Tuhan terus-menerus mengetuk hatinya. Tuhan memanggilnya kembali ke jalan yang benar.

Ia berkata, “Tuhan begitu baik kepada saya. Saya seorang penjahat, tetapi Tuhan mau menerima saya kembali.”

Ada kalanya manusia terperosok ke dalam kegelapan hidup. Banyak faktor mempengaruhi kehidupan manusia. Salah satu yang dialami Cikwan adalah faktor ekonomi dan tanggungjawab terhadap keluarganya. Kesulitan ekonomi membuat orang menghalalkan segala cara. Namun apa yang dilakukan oleh Cikwan bukanlah suatu solusi yang benar. Ia menyadari itu. Ia berhasil keluar dari kegelapan hidup itu.

Pertobatan selalu ada. Tuhan tidak pernah menginginkan seorang berdosa mati binasa. Yang diinginkan Tuhan adalah keselamatan orang berdosa. Di jaman Yesus, ada begitu banyak orang berdosa yang disingkirkan oleh masyarakat. Tetapi justru Yesus menerima kehadiran mereka. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa.

Ketika para ahli agama mempersoalkan tindakan Yesus yang menerima kehadiran orang-orang berdosa, Ia menjawab, “Bukan orang sehat yang memerlukan dokter, melainkan orang sakit. Aku menginginkan belas kasihan, bukan persembahan.” Artinya, kehadiran Yesus itu untuk membawa manusia kepada keselamatan. Ia tidak menghendaki ada orang yang tidak selamat.

Ada banyak orang berdosa di sekitar kita. Mungkin termasuk kita sendiri. Tugas kita adalah membawa semakin banyak orang kepada Tuhan. Tugas kita adalah menyelamatkan semakin banyak orang. Mari kita membuka hati kita untuk menerima semua orang berdosa yang datang kepada kita. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ

Jumat, 04 Februari 2011

Jumat,4 Februari 2011 (Ziarah Batin 2011)-Berbuat Kasih Itu Indah

Suatu hari seorang bapak berjanji kepada anaknya untuk mengirim pulsa. Tetapi ia sendiri tidak punya uang. Anaknya menunggu hingga malam, tetapi kiriman pulsa tidak datang-datang juga. Ia kesal. Lantas ia membanting-banting pintu kamar kosnya. Ia tidak percaya kalau bapaknya tidak menepati janji.

Beberapa saat kemudian, ia menelephon bapaknya. “Pak, mana janjinya? Pulsa saya sudah habis,” kata anak itu.

Dengan perasaan bersalah, bapaknya menjawab, “Tidak usah kuatir, nak. Bapak akan mengirimimu pulsa. Bapak sedang di jalan.”
“Yah, tetapi ini sudah malam. Pulsa saya tinggal lima ribu rupiah,” kata anaknya.

Bapaknya hanya geleng-geleng kepala. Ia tidak punya uang di tangan. Ia juga tidak bisa mentransfer pulsa, karena ia juga hanya punya lima ribu rupiah. Lantas ia berkata, “Nantilah, nak. Kita lihat besok pagi saja. Ini kan sudah malam.”

Anak itu sangat kecewa terhadap bapaknya. Bapaknya banyak berjanji, tetapi tidak bisa menepatinya. Sejak saat itu, anak itu tidak banyak berharap lagi sama bapaknya. Ia kehilangan kepercayaan terhadap bapaknya.

Dalam hidup ini ada dua sisi yang menentukan, yaitu kata-kata dan perbuatan. Orang yang mau sukses dalam hidup itu mesti melaksanakan dua hal ini dalam hidupnya. Kalau ia hanya berkata-kata dengan janji-janji yang muluk-muluk, ia akan kehilangan kepercayaan. Ia tidak berhasil dalam hidupnya, karena ia tidak melaksanakan apa yang dikatakannya.

Kalau orang berani melakukan perbuatan nyata, ia akan menemukan kesuksesan hidup. Ia menjadi orang yang mudah dipercaya, karena kata-kata yang ia ucapkan selaras dengan perbuatannya.

Dalam hidup beriman juga demikian. Orang beriman yang sejati itu orang yang mampu melaksanakan apa yang diucapkannya. Orang berani berbuat sesuatu untuk hidupnya. Dalam salah satu kotbahnya, Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu, ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Tuhan di surga.”

Apa yang dikehendaki oleh Tuhan bagi manusia? Tuhan menghendaki agar manusia saling mengasihi. Dalam hidup ini kasih itu mesti nyata, bukan hanya kata-kata. Kasih yang nyata itu ditunjukkan dengan perhatian terhadap sesama. Setiap orang membutuhkan perhatian. Karena itu, ketika kita memberi perhatian kepada sesama berarti kita memberi perhatian untuk diri kita sendiri.

Mari kita saling mengasihi, karena Tuhan sudah lebih dahulu mengasihi kita. Dengan kasih itu kita ingin berbuat baik bagi sesama kita. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ

Rabu, 02 Februari 2011

Rabu,2 Februari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Tuhan Menjamin Hidup Kita

Ada seorang arsitek yang meninggalkan kehidupan kota.Ia merasa bosan dengan hingar bingar kota.Baginya,kehidupan kota sudah terkontaminasi.Ia menjual seluruh harta miliknya untuk membuat sebuah padepokan di kaki gunung.Di sana ia hidup damai dan tentram bersama istri dan beberapa anaknya yang masih kecil.

Ia juga membuat beberapa padepokan yang bisa dipakai untuk penginapan.Banyak keluarga yang mendatangi padepokannya untuk menikmati istirahat di akhir pekan.Melihat suasana yang begitu damai dan tenang,banyak keluarga merasakan damai dan bahagia.Hasilnya adalah mereka menjadi giat dalam bekerja.Suasana akhir pekan itu memotivasi mereka untuk bekerja dengan sungguh-sungguh.

Kepada para pengunjung,ia meminta mereka untuk menikmati apa yang disediakan oleh alam di sekitarnya.Ia menganjurkan agar mereka mau makan singkong atau umbi-umbian,makan dengan lauk ikan dari kolam yang ada di padepokan itu.Ia juga mengharapkan mereka mandi air dingin yang ada di sekitar situ.

Namun para pengunjung itu tidak begitu peduli dengan anjurannya.Mereka membawa sendiri makanan dari kota.Mereka membawa bekal makanan yang berlimpah.Arsitek itu berkata,"Anugerah alam sudah begitu banyak,namun orang masih menjamin dirinya secara berlebihan.Itu kerakusan."

Apa yang kita kejar dalam hidup ini?Kalau kita jujur,kita akan mengatakan bahwa yang kita kejar dalam hidup ini adalah kebahagiaan.Kita ingin hidup bahagia.Kita ingin memiliki keluarga yang bahagia.Pekerjaan yang kita miliki itu untuk kebahagiaan kita.
Namun banyak orang sering lupa akan tujuan hidup ini.Orang merasa bahwa harta yang banyak itulah jaminan bagi kebahagiaan hidupnya.Karena itu,orang berlomba-lomba mengumpulkan harta kekayaan.Kawan bisa jadi lawan,karena perebutan harta kekayaan.Bahkan antar saudara pun bisa terjadi permusuhan karena ingin menguasai harta kekayaan.

Kisah tadi mau mengungkapkan ketergantungan hidup manusia itu pada Tuhan yang menciptakan kita.Sebagai orang beriman,ketergantungan kita pada Tuhan mesti selalu menjadi hal utama dalam hidup ini.Penyerahan diri secara total kepada Tuhan akan membawa kita kepada kebahagiaan.Mengapa?Karena Tuhan itu sumber kebahagiaan sejati.Hanya Tuhan yang mampu memberikan kebahagiaan itu kepada kita.Hanya Dia semata yang dapat memelihara hidup kita.Tuhan menjamin hidup kita.Tuhan memberkati.***

Frans de Sales,SCJ

Selasa, 01 Februari 2011

Selasa,1 Februari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Membangun Keselarasan Hidup

KIta sering menyaksikan para pejabat baru yang diambil sumpah jabatan.Dengan yakin,mereka mengucapkan sumpah dengan didampingi oleh pemuka agama masing-masing yang memegang kitab suci.Para pejabat itu bejanji setia kepada sumpah mereka untuk bekerja dengan sebersih-bersihnya.Banyak orang kagum menyaksikan sumpah jabatan seperti itu.
Namun beberapa lama kemudian kita juga menyaksikan pejabat yang sama menjadi topik utama berita di berbagai media massa.Mereka terlibat atau tertangkap pihak berwenang entah karena tidak disiplin,menyelewengkan kekuasaan atau melakukan korupsi dalam berbagai bentuk.Kita dibuat tercengang dan berdecak getir.

Mengapa orang yang tampaknya begitu baik bisa jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum?Kita tidak habis pikir.Rasanya belum begitu lama pejabat itu gencar memerangi kejahatan,korupsi,tetapi nyatanya dia sendiri tertangkap tangan.

Mengucapkan sesuatu itu tidak begitu sulit asalkan tidak bisu.Kita yakin bahwa mereka semua mengerti,tahu isi yang diucapkan dalam sumpah jabatan itu.Namun tahu atau mengerti saja belumlah cukup.Orang mesti memiliki kehendak baik untuk melaksanakan apa yang dijanjikannya.Orang mesti berjuang untuk menjaga keselarasan antara apa yang diucapkan dengan cara hidupnya.Ini tidak mudah.Ada banyak godaan dan tantangan yang mesti dihadapi.

Kata-kata yang diucapkan seseorang itu membawa konsekuensi yang besar bagi hidupnya.Ia bisa mendapatkan kepercayaan yang besar dari orang-orang di sekitarnya.Namun dengan kata-kata yang dia ucapkan,ia dapat ditolak oleh orang-orang di sekitarnya.Ada ungkapan bahwa kata-kata itu bagaikan pedang bermata dua.Orang bisa menggunakannya untuk hal-hal yang baik.Tetapi orang juga bisa menggunakannya untuk hal-hal yang jelek.

Karena itu,orang mesti menjaga kata-kata yang hendak diucapkannya.Orang mengatakan bahwa janji itu adalah hutang.Sebesar janji kita,sebesar itu pula utang yang kita miliki.Dalam hidup sehari-hari,kita mesti menyelaraskan antara kata-kata yang yang kita ucapkan dengan perbuatan nyata kita.Kalau ada ketimpangan,kita tidak bisa dipercaya.Kalau kita banyak janji namun tanpa berbuat,kita akan disebut sebagai orang yang suka membual.Kita bagai tong kosong nyaring bunyinya.

Dari kata-kata dan perbuatan nyata yang kita lakukan orang akan menilai kualitas diri kita.Baik atau buruknya diri kita dapat dilihat dari keselarasan antara kata-kata dan pebuatan itu.Karena itu,sebagai orang beriman,kita mesti berani menghidup semangat untuk melaksanakan apa yang telah kita janjikan atau sumpahkan.Hanya dengan melaksanakannya dengan baik,kita menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan dan sesama.Tuhan memberkati***

Frans de Sales,SCJ