Kamis, 17 Februari 2011

Jumat,18 Februari 2011(Inspirasi Hari Ini)-Berusaha untuk Hidup Jujur

Ada seorang miskin yang punya keinginan untuk menjadi orang kaya. Untuk mewujudkan mimpinya itu, ia mengambil pakaian dan segala perlengkapan lainnya lalu pergi ke kota. Ia berpikir, di kota ia akan dengan mudah menjadi orang kaya. Tinggal di desa lebih banyak buntungnya daripada untung.

Dia menjelajahi seluruh kota dan bertanya bagaimana caranya menjadi orang kaya. Berbagai ragam jawaban ia temukan. Misalnya, menjadi orang kaya itu orang mesti bekerja keras. Orang tidak begitu saja menjadi orang kaya. Tidak ada cara instant menjadi orang kaya.

Ia berkata dalam hati, “Saya ingin menjadi orang kaya dalam waktu yang singkat. Mengapa tidak bisa?”

Tiba-tiba ia mendapati seseorang yang membawa banyak emas yang secara tidak sengaja jatuh ke dalam selokan. Ia berpikir dalam hati bahwa itulah kesempatan baginya untuk menjadi orang kaya mendadak. Karena itu, ia segera saja mengambil beberapa batang emas dari selokan itu. Kemudian ia mengambil langkah seribu.

Namun banyak orang yang berdiri di sekitar selokan itu segera menangkapnya. Salah seorang menghardiknya, “Bagaimana mungkin kamu mau mengambil emas-emas itu dan melarikan diri? Padahal banyak orang berkerumun di sini untuk menolong orang yang jatuh itu.”

Orang miskin itu menjawab, “Aku hanya melihat emas. Aku tidak melihat orang banyak itu.”
Banyak orang tersilau oleh harta kekayaan. Harta itu memang selalu menggoda. Karena itu, orang tidak peduli bahwa harta itu mempunyai pemilik. Orang tidak boleh mengambil milik orang lain bagi dirinya sendiri. Harta yang menggoda itu bisa menjerumuskan banyak orang ke dalam penjara.

Akhir-akhir ini Komisi Pemberantasan Korupsi sedang giat-giatnya memburu para koruptor. Salah satu kasus adalah penggeledahan di ruangan para anggota DPR. Ditengarai ada anggota wakil rakyat yang terlibat dalam penggelapan dana penghijauan dan pengalihfungsian hutan mangrove di Tanjung Api-api, Sumatera Selatan.

Keinginan untuk menjadi orang kaya secara mendadak telah mendorong usaha-usaha untuk penggelapan dana itu. Padahal dana itu sudah disiapkan oleh negara untuk kehidupan bersama. Hutan yang mau ditanam itu bukan hanya untuk sekelompok orang. Tetapi untuk kehidupan begitu banyak orang di dunia ini.

Sebagai orang beriman tentu kita ingin hidup secara wajar. Kalau kita menjadi kaya, hal itu bukan karena perbuatan tangan kita yang kotor. Tetapi lebih sebagai suatu usaha keras yang halal yang kita raih untuk kehidupan kita.

Karena itu, mari kita berusaha untuk hidup jujur. Kejujuran itu akan membuat hidup kita menjadi damai dan tenteram. Kita akan menemukan hidup yang bahagia, meski harta kita sedikit. Meski kita tidak kaya harta, namun kehidupan yang jujur memberikan kita kekayaan rohani. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ

sumber:http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2009/10/berusaha-untuk-hidup-jujur.html

Rabu, 16 Februari 2011

Kamis,17 Februari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Bersama Tuhan Dalam Kancah Persaingan

Mei 2008 yang lalu kita semua menyaksikan perjuangan putri-putri Indonesia untuk merebut Piala Uber. Maria Kristin dan kawan-kawan telah berjuang habis-habisan. Babak demi babak telah mereka lewati. Keringat mengguyur seluruh tubuh mereka. Perjuangan keras mereka lakukan demi kebanggaan bangsa kita.

Mereka bahkan tidak takut jatuh dan bangun di atas lapangan disaksikan ribuan mata penonton. Sorak sorai dukungan dari penonton telah mereka dapatkan. Sejak awal mereka didukung oleh rakyat Indonesia untuk kembali merebut Piala Uber dari tangan China. Semangat membara mereka torehkan. Buktinya adalah mereka mampu mengempaskan tim-tim unggulan.

Sayang, di final tim Uber kita kalah dari tim terkuat dunia: China. Kekalahan mereka tidak begitu mengecewakan rakyat. Mereka sudah berjuang habis-habisan. Mereka tidak memiliki rasa takut untuk menghadapi lawan yang begitu tangguh. Kalau mereka sampai kalah, memang sampai di situlah perjuangan mereka.

Ada satu hal yang tampak dari pertandingan final itu, yaitu semangat juang yang ditunjukkan oleh tim Piala Uber kita. Mereka pantang menyerah. Semangat mereka terus berkobar demi Indonesia tercinta ini. Patriotisme mereka sangat tampak dalam pertandingan itu baik di tunggal maupun di ganda.

Setiap orang mesti memiliki semangat juang dalam hidup ini. Semangat juang itu ditunjukkan dengan kerja keras dan pantang menyerah. Orang yang memiliki semangat juang biasanya akan menuai hasil yang menggembirakan.

Di balik semangat juang itu ada semangat berkorban. Orang yang ingin berhasil dalam hidupnya mesti memiliki semangat berkorban. Tidak ada orang yang berhasil dalam hidupnya dengan cara bermalas-malasan. Apalagi dalam dunia persaingan yang semakin kuat sekarang ini. Semangat juang mesti selalu diandalkan dalam menghadapi persaingan-persaingan yang ada. Orang yang tidak memiliki semangat juang dan berkorban tidak akan bertahan dalam hidupnya. Ia akan cepat keluar dari persaingan yang begitu ketat.

Karena itu, orang mesti memiliki iman yang kuat dalam menghadapi persaingan ini. Iman yang kuat itu ditunjukkan dalam semangat juang dan berkorban yang tinggi. Orang yang beriman itu orang yang berani bertarung dalam kancah persaingan. Orang yang pantang menyerah di kala menghadapi tantangan. Orang beriman itu bukan pengecut. Ia terus maju apa pun resiko yang akan dihadapinya.

Orang yang beriman itu tentu sudah siap dengan berbagai strategi untuk menghadapi berbagai persaingan dan tantangan yang akan dihadapinya. Jadi orang beriman itu tidak berjuang dengan tangan hampa. Ia mesti melengkapi dirinya dengan berbagai hal yang menunjang dirinya dalam menghadapi berbagai persaingan itu. ‘Perlengkapan’ yang paling utama adalah Tuhan. Orang beriman selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Ia menyusun strateginya bersama Tuhan. Dengan demikian ia memiliki kekuatan untuk menghadapi berbagai persaingan dan tantangan.

Mari kita berusaha untuk senantiasa menghadapi berbagai persaingan dan tantangan bersama Tuhan. Hanya Tuhanlah yang mampu membantu kita berjuang dalam kancah persaingan ini. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ

sumber:http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2009/10/bersama-tuhan-dalam-kancah-persaingan.html

Selasa, 15 Februari 2011

Rabu,16 Februari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Berani Menghadapi Resiko Hidup

Albert Schweitzer lahir pada tahun 1875 di Alsace Hulu. Sewaktu kecil ia sering sakit-sakitan dan lamban dalam baca tulis. Ketika berusia delapan tahun, ia mampu bermain organ dengan baik. Setelah dewasa, kecerdasannya makin menonjol. Ia kemudian mampu meraih tiga gelar doktor di bidang filsafat, teologi dan musik. Pada usia 30 tahun, keriernya terus menanjak. Ia pernah ikut konser musik dan menjadi penulis buku.

Suatu hari, ia membaca artikel tentang Kongo di Afrika. Satu kalimat yang sangat menyentuh Schweitzer adalah “Sementara kita sibuk berkotbah, mereka menderita sakit dan mati di depan kita tanpa berbuat apa-apa.”

Schweitzer tersentak dan tergerak untuk berbuat sesuatu. Sekalipun sudah memiliki tiga gelar doktor, ia memutuskan untuk kuliah lagi di fakultas kedokteran. Setelah selesai, ia akan pergi ke Kongo, tetapi teman-temannya menghalanginya. Mereka menasihatinya untuk menyumbang uang saja, sehingga tidak perlu meninggalkan kariernya yang cemerlang.
Namun Schweitzer dan istrinya tetap memutuskan untuk pergi ke Kongo pada tahun 1913. Di sana mereka melayani orang sakit dan menderita selama 50 tahun. Ia rela meninggalkan segala sesuatu di belakangnya demi sesamanya yang menderita. Banyak warga Kongo tertolong oleh pelayanan Schweitzer dan istrinya.

Jarang kita menemukan orang-orang yang sudah mapan dalam hidupnya untuk memulai suatu kehidupan yang belum pasti. Kalau orang diminta untuk memilih mempertahankan hidup yang sudah mapan dengan suatu kondisi yang kurang menyenangkan, pasti orang akan memilih yang pertama. Orang tidak peduli akan penderitaan sesamanya.

Namun Schweitzer punya pandangan yang lain. Ia memilih untuk melayani orang-orang yang menderita sakit. Ia berani mengambil resiko atas hidupnya demi keselamatan sesamanya. Hal ini tentu saja butuh suatu pengalaman iman yang kuat akan Tuhan. Hanya orang yang punya iman yang besar kepada Tuhan yang mampu mengubah hidupnya.

Tentu saja Schweitzer mendasarkan keputusannya pada kasihnya kepada sesama. Iman itu biasanya disertai dengan kasih akan sesama. Kasih yang menuntut suatu perbuatan nyata bagi sesama yang membutuhkan.

Sebagai orang beriman, kita juga diajak untuk berani menghadapi resiko dalam perjalanan hidup kita. Tentu saja hal ini menjadi suatu jawaban iman kita kepada Tuhan yang kita sembah. Karena itu, dibutuhkan suatu keberanian untuk mengambil langkah-langkah hidup yang benar yang berlawanan dengan pandangan-pandangan umum. **

Frans de Sales, SCJ

sumber:http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2009/10/berani-menghadapi-resiko-hidup.html

Selasa,15 Februari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Usaha Mencintai Budaya Sendiri

Beberapa waktu lalu bangsa kita dikejutkan oleh klaim Malaysia atas lagu Rasa Sayange, Angklung dan Reog Ponorogo. Menurut pemerintah Malaysia, ketiga unsur seni ini milik mereka. Karena itu, mereka menjadikannya hak paten atas ketiga hal ini. Kalau bangsa lain menciptakan hal yang sama, mereka mesti meminta ijin kepada pemerintah Malaysia.

Reaksi dari masyarakat dan pemerintah Indonesia sangat beragam. Banyak protes terjadi terhadap ulah Malaysia ini. Soalnya adalah tiga unsur seni itu berasal dari tanah air ini. Karena itu, pemerintah Malaysia tidak punya hak untuk mematenkannya. Reaksi paling keras dilakukan terhadap Reog Ponorogo di Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta. Berbagai atraksi menentang ditunjukkan. Bahkan ancaman-ancaman pun dikeluarkan oleh para pecinta reog.


Pertanyaan besar bagi kita sebagai bangsa adalah mengapa pematenan terhadap produk kita ini bisa terjadi? Ada berbagai jawaban atas pertanyaan ini. Disinyalir bahwa ada sejumlah pemburu benda budaya dari Malaysia. Mereka langsung mendatangi penduduk, terutama desa-desa di Sumatra. Dengan uang puluhan juta rupiah, naskah-naskah Melayu bersejarah itu berpindah tangan. Tindakan selanjutnya adalah pengklaiman terhadap produk-produk budaya ini.


Namun hal yang lebih utama adalah Malaysia tahu betul bahwa bangsa kita sedang dilanda sindrom cinta produk dari luar negeri. Segala lapisan masyarakat di tanah air sedang menggandrungi produk-produk budaya dari luar negeri. Misalnya, musik rock, olahraga keras seperti smack down, coca cola dan minuman sejenisnya, McDonald, dan berbagai super market dari luar negeri yang merajalela di seantero negeri ini.


Masyarakat Indonesia sedang mencurahkan seluruh perhatian untuk produk-produk budaya dari luar negeri ini. Karena itu, mereka lupa bahwa produk-produk budaya dalam negeri yang memiliki nilai seni tinggi mesti dipatenkan. Masyarakat Indonesia sedang mengalami xenomania (mencintai secara berlebihan produk dari luar negeri).


Dari peristiwa ini, kita diajak untuk mencintai budaya lokal yang kita miliki. Produk-produk budaya kita sebenarnya tidak kalah hebat dengan produk-produk dari luar negeri. Soalnya adalah apakah bangsa ini dapat mencintai kebudayaannya sendiri? Ini pertanyaan yang mesti terus-menerus dijawab oleh setiap insan dari bangsa ini.


Melestarikan budaya sendiri berarti kita ingin menemukan jati diri kita sebagai bangsa. Suatu bangsa yang memiliki harga diri. Suatu bangsa yang memiliki suatu identitas yang jelas meski kita memiliki banyak budaya, bahasa dan suku. Kekayaan budaya yang kita miliki itu semestinya kita perjuangkan dalam kehidupan kita. Dengan demikian produk-produk budaya kita itu tetap menjadi milik kita. Siapa lagi yang mesti mencintai budaya kita, kalau bukan kita sendiri? **

Frans de Sales, SCJ

sumber:http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2009/10/usaha-mencintai-budaya-sendiri.html

Senin, 14 Februari 2011

Senin,14 Februari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Berjuang Meraih Sukses

Setelah berhenti kuliah, Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi Pixar, mengalami masa-masa yang tidak selalu menyenangkan. Ia tidak punya kamar kost, sehingga menumpang tidur di lantai kamar teman-temannya.

“Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan tujuh mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga,” kata Steve Jobs.

Suatu hari ia tertarik pada Reed College yang mungkin waktu itu adalah yang terbaik di Amerika Serikat dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. “Karena sudah DO (drop out), saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti pelajaran. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan sanserif, membuat variasi spasi antarkombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat,” kata Steve Jobs tentang pelajaran yang baru.

Menurutnya, semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan. Saat itu, ia sama sekali tidak melihat manfaat kaligrafi bagi kehidupannya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika ia mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Macintosh adalah komputer pertama yang bertipografi cantik.

Ia berkata, “Seandainya saya tidak DO dan mengambil pelajaran kaligrafi, Macintosh tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Macintosh, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil pelajaran kaligrafi dan PC tidak memiliki tipografi yang indah.”

Apa yang dihasilkan oleh Steve Jobs tidak dalam sekejap. Ia berproses. Ia mengalami jatuh dan bangun. Ia mengalami betapa hidup itu menuntut suatu perjuangan. Kalau saja ia berhenti berjuang, kesuksesan tidak akan ia raih seperti sekarang ini.

Kesuksesan itu tidak diraih dalam waktu yang singkat. Orang mesti mengalami berbagai proses untuk meraih sukses itu. Hal ini tumbuh dalam diri orang-orang yang memiliki keberanian untuk menata hidupnya menjadi lebih baik. Orang yang pengecut biasanya akan gagal di tengah jalan.

Sebagai orang beriman, kita mesti berani untuk mengalami proses kehidupan ini. Kita tidak bisa mengharapkan bulan jatuh dari langit untuk kita nikmati. Kebahagiaan itu tidak datang dalam waktu yang singkat. Namun kebahagiaan itu sudah dimulai, ketika kita memiliki tekad untuk meraih sukses.

Untuk itu, orang yang ingin sukses dalam hidupnya mesti berani berjuang. Ia mesti berani bekerja keras, karena kesuksesan itu biasanya disertai dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh.

Mari kita terus-menerus berjuang sambil tetap menaruh iman dan pengharapan kita kepada Tuhan. Dia selalu menyertai kita dengan meringankan perjuangan kita dalam meraih sukses. Tuhan memberkati. **


sumber:http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2009/10/berjuang-meraih-sukses.html

Jumat, 11 Februari 2011

Sabtu,12 Februari 2011 (Inspirasi Hari ini)-Berjuang Bersama Tuhan

Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi Pixar, ternyata memiliki kisah hidup yang unik. Kisah ini dimulai sebelum ia lahir. Ibu kandungnya adalah mahasiswi belia yang hamil karena "kecelakaan". Ibunya memberikan ia kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa anaknya harus diadopsi keluarga sarjana. Ia diadopsi seorang pengacara dan istrinya.

Sialnya, begitu ia lahir, tiba-tiba pasangan ini berubah pikiran, karena ingin bayi perempuan. Maka orangtua angkatnya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: "Kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut, apakah Anda berminat?

Mereka menjawab, "Tentu saja." Ibu kandungnya lalu mengetahui bahwa ibu angkat anaknya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkatnya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orangtua angkat anaknya berjanji akan menyekolahkannya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian Steve Jobs betul-betul kuliah. Namun, ia memilih universitas yang sangat mahal, sehingga seluruh tabungan orangtuanya habis untuk biaya kuliah. “Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orangtua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah. Saya yakin, itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil,” kata Steve Jobs saat pelepasan mahasiswa Unversitas Stanford beberapa tahun lalu.

Ia menjadi seorang yang sukses dalam hidupnya. Keputusan itu penuh resiko. Namun ia berani menghadapi apa pun resiko itu.

Dalam hidup ini kadang-kadang orang mesti berani mengambil resiko. Orang tidak bisa hanya mencari aman dalam hidup ini. Kesuksesan dan kemajuan yang dicapai oleh berbagai orang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berani melintasi batas-batas kemapanan yang ada. Mereka ingin sesuatu yang lebih dalam hidup mereka. Karena itu, mereka berjuang.

Kisah Steve Jobs menjadi salah satu pendorong bagi kita untuk berani mengambil langkah-langkah berani untuk kesuksesan dan kemajuan dalam hidup kita. Namun orang tidak asal berani. Orang mesti memiliki perhitungan-perhitungan yang matang dalam usaha-usahanya.

Sebagai orang beriman, kita yakin Tuhan akan selalu menjadi pendorong bagi hidup kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita berjuang sendiri dalam hidup ini. Tuhan senantiasa membantu kita untuk meraih sukses dan kemajuan.

Karena itu, mari kita berusaha untuk senantiasa berjuang bersama Tuhan dalam hidup ini. Kita serahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Dia pasti membantu kita. Tuhan memberkati. **

sumber:http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2009/10/berjuang-bersama-tuhan.html

Jumat,11 Februari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Hidup Ini Anugerah Tuhan

Hidup ini sering terjadi keajaiban-keajaiban. Orang mengalami keajaiban itu sebagai bentuk penyertaan Tuhan atas dirinya. Pengalaman tentang keajaiban Tuhan pernah dialami oleh murid-murid Yesus. Pada waktu Raja Herodes memerintah wilayah Palestina, ia menyuruh tentaranya menangkap para pengikut Yesus. Bahkan ada yang dibunuh.

Petrus, misalnya, ditangkap dan dipenjarakan tanpa suatu pengadilan apa pun. Petrus diawasi oleh empat regu masing-masing dengan empat prajurit. Mungkin ia dianggap sebagai orang yang paling berbahaya. Petrus tidak bisa berjumpa dengan para pengikut Yesus yang lain.
Namun para pengikut yang lain mendoakan keselamatan Petrus. Mereka berdoa dengan sangat tekun, sehingga Tuhan mendengarkan doa-doa mereka. Keajaiban pun terjadi. Meskipun tangan dan kakinya terbelenggu oleh rantai, Petrus pun terlepas dari penjara. Rupanya ada malaikat Tuhan yang datang untuk membebaskan Petrus yang tidak bersalah.

Sementara ia tertidur nyenyak, malaikat itu datang dan menepuk punggungnya. Rantai yang membelenggu tangan dan kakinya itu dengan mudah terlepas. Ia pun berjalan dengan bebas meninggalkan penjara. Tidak ada seorang prajurit pun yang mampu menahannya untuk pergi dari penjara itu. Ia diselamatkan oleh Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Petrus mengalami hal ini sebagai anugerah dari Tuhan bagi dirinya. Untuk itu, ia mensyukuri rahmat Tuhan itu.

Kita sering mendengar adanya keajaiban-keajaiban di jaman modern ini. Ada orang yang merasa bahwa keajaiban yang ia alami itu berasal dari dirinya sendiri. Karena itu, ia mulai membanggakan kemampuan dirinya. Ia mulai pamer. Ini berbahaya bagi kehidupan.

Sebenarnya, keajaiban itu berasal dari Tuhan. Tuhan itu sumber segala-galanya. Tuhan yang memampukan seseorang untuk memiliki kekuatan dalam menjalani kehidupan ini. Kekuatan dan kemampuan yang kita miliki itu berasal dari Tuhan. Dialah yang memberi kehidupan ini kepada kita.

Pengalaman Petrus dalam kisah tadi menunjukkan bahwa manusia semestinya tidak membanggakan kemampuan atau kekuatan yang ada dalam dirinya. Untuk itu, kerendahan hati sangat dituntut dari diri seorang yang beriman kepada Tuhan. Orang beriman itu mesti berani mengakui kemampuan yang dimilikinya sebagai rahmat yang datang dari Tuhan. Tuhanlah yang memberi daya kekuatan untuk kehidupan kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Artinya, kita mengakui keterbatasan kita di hadapan Tuhan. Kita membiarkan Tuhan bekerja dalam diri kita. Untuk itu, kita mesti membuka hati kita lebar-lebar bagi kehadiran Tuhan di dalam diri kita. Dengan demikian kita mengalami damai dan sejahtera. Kasih Tuhan senantiasa menyertai kita. Tuhan memberkati. **

sumber:http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2009/10/hidup-ini-anugerah-tuhan.html