Kamis, 11 November 2010

Kamis,11 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)-Berani Menolak Kejahatan

Di kota besar, papan reklame yang memancarkan cahaya warna-warni di waktu malam sudah merupakan pemandangan biasa. Suasana malam yang gelap menjadi semarak dan meriah dengan adanya cahaya papan reklame yang mempromosikan berbagai produk. Ada sebuah papan reklame yang mempromosikan perusahaan minyak bumi SHELL. Iklan itu berbunyi: Anda can be sure of SHELL. Iklan itu berusaha meyakinkan konsumen apabila mereka memakai bensin dari merek Shell pasti akan nyaman dan enak dipakai.
Entah mengapa pada suatu malam ada kerusakan pada papan reklame itu tepat pada huruf S. Akibatnya, bunyi iklan itu berubah menjadi: You can be sure of HELL. Artinya, Anda boleh yakin bahwa neraka betul-betul ada!
Suatu malam, seorang pemuda baru saja pulang mabuk-mabukan dan mobilnya berhenti di lampu merah perempatan jalan di mana iklan papan reklame itu berada. Pemuda itu terkejut membaca iklan yang berbunyi, You can be sure of HELL.

Ketika lampu hijau menyala, pemuda itu mengemudikan mobilnya pulang. Namun sepanjang jalan, pikirannya tidak bisa lepas dari iklan yang tadi dibacanya. Sesampai di rumah, ia segera naik ke tempat tidur dan berusaha tidur melupakan iklan tadi. Ternyata tidak bisa! Iklan itu terus-menerus terbayang di mata pemuda ini: Neraka, neraka, neraka, engkau harus tahu neraka itu bukan omong kosong, tetapi betul-betul ada!
Pemuda ini tahu bahwa dirinya adalah orang berdosa dan kalau malam itu ia mati, ia pasti masuk neraka. Maka pagi harinya tanpa pikir panjang lagi, ia mencari seorang imam. Ia meminta bimbingan, agar ia beroleh pengampunan dosa. Ia ingin bertobat.

Manusia hidup dalam dunia yang penuh godaan. Ada orang yang tergoda oleh enaknya minuman keras. Mabuk-mabukan sudah menjadi bagian hidupnya. Orang seperti ini baru sadar, ketika penyakit menyerang dirinya. Ada orang tergoda oleh gemerlap uang, sehingga ia mengejar uang sebanyak-banyaknya. Orang seperti ini tidak peduli apakah usaha itu halal atau tidak halal. Orang seperti ini baru sadar, ketika ia mengalami penderitaan akibat ganasnya uang.

Sebenarnya tawaran dunia berupa godaan-godaan itu netral. Artinya, semua itu tergantung dari manusia itu sendiri. Apakah manusia mau mengambil semua godaan itu atau manusia mau secara selektif menghadapi godaan-godaan itu?

Kisah tadi mau mengingatkan kita bahwa kita perlu hati-hati dalam hidup ini. Ada begitu banyak hal yang tampak baik bagi hidup kita, namun ternyata menyimpan penderitaan bagi hidup manusia itu sendiri. Pemuda yang mabuk dalam kisah di atas disadarkan oleh papan iklan. Ia menyesal atas tingkah lakunya yang mabuk-mabukan. Ia berbalik ke jalan yang benar. Ini salah satu contoh bagaimana manusia mesti hidup dalam dunia ini. Orang mesti memilih yang baik. Orang mesti menolak yang jahat. Memang tidak mudah menolak yang jahat. Tetapi orang mesti berani untuk mengambil sikap. Untuk itu, orang beriman mesti kuat dalam iman. Orang beriman tidak boleh menyerah begitu saja terhadap godaan-godaan. Orang beriman mesti berani menolak kejahatan yang mengganggu hidupnya. **


Frans de Sales, SCJ

Rabu, 10 November 2010

Rabu,10 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)-Hati yang remuk redam tidak akan di tolak Tuhan


Ada seorang pencuri yang sudah berpengalaman dan belum pernah tertangkap polisi. Suatu malam ia memasuki sebuah rumah untuk mencuri barang-barang berharga yang ada di dalamnya. Sebelumnya, pada siang hari ia sudah menyelidiki dan mengamati rumah yang akan dijadikan mangsa itu.
Ia masuk ke dalam sebuah kamar di rumah itu, sebab ia tahu di dalam ruangan itu banyak barang yang bisa diambil. Menurut perhitungannya, penghuni rumah itu sudah tidur sebab lampu-lampu sudah dimatikan. Tetapi ketika ia sedang asyik meneliti barang-barang yang ada di dalam ruangan itu, ia mendengar bunyi langkah kaki dan suara orang mendekati ruang tersebut. Dengan cepat pencuri ini bersembunyi di kolong ranjang untuk menyelamatkan dirinya.
Ternyata yang masuk adalah bapak kepala rumah tangga disertai istri dan dua anaknya. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja dan mengadakan ibadah keluarga. Mereka menyanyikan puji-pujian untuk kemuliaan nama Tuhan dan juga membaca firman Tuhan bersama-sama tentang betapa besar kasih Allah kepada dunia yang berdosa ini.

Semua yang dilakukan oleh keluarga ini didengar dengan jelas sekali oleh pencuri yang bersembunyi di kolong ranjang. Setelah ibadah keluarga selesai, semua keluar dari ruangan dan lampu dimatikan. Perlahan-lahan pencuri itu keluar dari tempat persembunyiannya, namun sekarang keinginannya untuk mencuri sudah hilang dari dalam hatinya. Hatinya begitu terkesan oleh apa yang telah didengarnya. Ia segera pulang ke rumahnya dan sepanjang malam itu ia tidak bisa tidur.

Keesokan harinya, ia memberanikan diri mengetuk pintu rumah yang tadi malam dimasukinya. Ia menceritakan kepada pemilik rumah apa yang diperbuatnya tadi malam. Bapak pemilik rumah itu tidak marah kepada si pencuri tersebut. Malah dengan penuh kasih ia memberitakan kebenaran firman Tuhan sehingga pada hari itu juga, pencuri itu bertobat. Ia pulang dengan sukacita karena mengetahui bahwa Tuhan mengasihi dirinya dan perbuatannya diampuni oleh pemilik rumah.

Tuhan itu baik kepada semua orang. Termasuk orang yang jahat. Ia memberikan matahari untuk semua orang. Ia memberikan tanah yang subur untuk semua orang. Tuhan tidak peduli apakah seseorang itu punya dosa besar atau tidak. Namun yang selalu dituntut dari Tuhan adalah hati yang mau bertobat.

Bertobat berarti orang mau menerima Tuhan bagi hidupnya. Orang tidak mengandalkan kemampuan dan kekuatan dirinya sendiri. Kasih Tuhan justru hidup dan bertumbuh dengan subur dalam diri seseorang. Bukan lagi dosa dan kejahatan yang menjadi andalan dalam hidup. Untuk itu, orang mesti berani mengakui semua kesalahan dan dosanya di hadapan Tuhan. Setelah itu, orang berjanji untuk tidak melakukan lagi dosa.

Untuk itu, orang mesti berani menyerahkan seluruh hidupnya kepada penyelenggaraan Tuhan. Tuhan tidak akan pernah menolak umatNya yang datang kepadaNya. Tuhan akan menerimanya kembali seperti domba yang hilang yang ditemukan kembali. Tuhan selalu memberikan kasihNya bagi kehidupan manusia.

Karena itu, jangan takut untuk datang kepada Tuhan. Jangan kita ragu mendekatkan diri kita kepadaNya. Apa pun dan seberapa pun besar dosa kita, Tuhan akan menerima kita dengan tangan terbuka. Mari kita melangkahkan kaki kita menuju Tuhan yang sudah menanti kedatangan kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Selasa, 09 November 2010

Selasa,9 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)-Menimba Semangat Hidup Sesama

Pada suatu musim panas yang panjang, seekor rubah berjalan-jalan di hutan. Ia menemukan sebatang pokok anggur. Pokok anggur itu berbuah lebat dan ranum. Butir-butir anggur kelihatan segar menggantung pada ranting-rantingnya.
Rubah ingin makan buah anggur itu. Namun telah mencoba sebisa-bisanya, ia tak dapat menggapai buah anggur itu. Dia berdiri di atas kaki belakangnya. Dia melompat, bahkan dia mencoba memanjat pokok anggur itu. Tetapi buah anggur itu tergantung jauh di atas sana. Ia tidak dapat menjangkaunya. Beberapa lama rubah itu mencoba memetiknya. Akhirnya dia kepayahan dan menyerah.
Dalam kekesalan hatinya, ia berkata, “Huh... buah-buah anggur asam. Aku tidak menginginkan anggur-anggur itu.” Ia pun pergi dengan hati yang sedih.

Sering sekali hal seperti ini terjadi dalam hidup kita. Kekesalan hati sering membuat orang tidak mau menghargai sesamanya. Meskipun ada begitu banyak hal baik yang ada dalam diri sesama, tetapi kalau hati lagi kesal orang cuek. Orang tidak peduli terhadap kebaikan sesama yang berlimpah-limpah itu.

Benarkah hal ini mesti terjadi dalam hidup? Bukankah kita mesti pandai memilah-milah antara yang kita sukai dengan hal yang tidak kita sukai? Janganlah kita sedang terlibat permusuhan dengan orang lain, sesama dekat menjadi korban.

Kisah Rubah yang kesal hati itu menjadi contoh bagi kita. Kebaikan sesama mesti kita gunakan sebaik-baiknya untuk hidup kita. Kebaikan sesama itu menjadi kekayaan yang mesti memperkaya pengalaman hidup kita. Sesama itu bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Hadirnya mereka di sekeliling kita sangat membantu kita dalam membentuk watak dan karakter kita.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kemampuan dan semangat hidup yang diberikan oleh sesama kita menjadi suatu tambahan semangat bagi hidup kita. Kita ingin agar apa yang mereka miliki dapat menjadi kontribusi bagi kelangsungan hidup kita. Kita mesti mampu membawa kabar sukacita bagi sesama yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ

Senin, 08 November 2010

Senin,8 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)-Menghargai Setiap Manusia

Suatu hari seekor rusa jantan berhenti di sebuah sungai yang jernih untuk memuaskan dahaganya. Ketika sedang minum, dia melihat bayangan dirinya. Dia sangat kagum pada tanduknya. “Betapa bagusnya tanduk-tanduk yang kumiliki,” pikir rusa jantan itu.
Ia berkata lagi, “Aku adalah binatang paling ganteng di hutan ini. Kekuranganku hanya pada kaki. Kaki-kakiku begitu kecil dan kurus. Jika dapat, aku akan menggantinya dengan sepasang kaki yang lebih bagus.”

Karena itu, rusa jantan itu menjadi sedih memikirkan bagaimana dapat mengganti kaki-kakinya, supaya ia sungguh-sungguh kelihatan gagah.

Suatu hari lain ketika dia berjalan-jalan melalui rimba sambil memikirkan masalah itu, ia mendengar anjing-anjing pemburu menyalak. Mendengar itu, ia pun lari. Tetapi anjing-anjing itu telah melihatnya. Mereka terus mengejarnya. Rusa jantan itu berlari cepat.

Ketika berlari melalui semak belukar, tanduknya yang indah itu tersangkut. Dia berjuang untuk melepaskan diri sementara itu anjing-anjing semakin dekat. Dia merasa ajalnya sudah dekat. Akan tetapi, dengan sekali sentakan keras akhirnya rusa jantan itu dapat melepaskan diri, keluar dari semak-semak. Dia pun selamat. Dengan masih terengah-engah, ia bergumam dalam hati, “Kakiku yang kurus ini telah menyelamatkanku. Sedangkan tanduk-tandukku yang indah justru menyusahkanku. Kalau begitu aku tak akan mengganti kaki-kakiku.”

Dalam hidup ini ada hal-hal kecil yang begitu berguna bagi hidup kita. Otak yang kita miliki, misalnya. Otak yang kecil itu ternyata sangat berperan bagi kelangsungan hidup manusia. Tanpa otak, tangan dan kaki kita tidak bisa bekerja dengan baik. Otak yang memerintah organ tubuh yang lain untuk melakukan aktivitasnya. Otak yang menjadi sumber inspirasi bagi hidup manusia.

Namun otak tidak bisa bekerja sendirian. Tanpa urat-urat syaraf yang kecil, perintah dari otak tidak bisa terlaksana dengan baik. Karena itu, otak tidak bisa membanggakan diri sebagai yang paling hebat dan utama dalam kerja tubuh manusia. Otak dapat bekerja dengan baik selalu dalam konteks keterkaitan dengan keseluruhan organ tubuh.

Dalam hidup sehari-hari ada orang yang menempatkan diri sebagai yang paling penting dan berpengaruh. Lalu muncul kecenderungan untuk sombong dan membanggakan diri. Kesombongan lalu memenuhi dirinya. Ini bahaya. Semestinya ia menyadari bahwa penting dan berpengaruhnya dia dalam hidup ini karena bantuan dari masyarakat sekitar. Ada banyak orang kecil dan sederhana yang memberikan kontribusi yang besar kepadanya, sehingga ia memiliki pengaruh.

Karena itu, melalui kisah di atas kita diajak untuk senantiasa menghargai orang-orang yang ada di sekitar kita. Mereka memiliki pengaruh terhadap hidup kita. Mereka memiliki kemampuan untuk selalu berperan aktif dalam kehidupan kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menghargai hidup setiap orang. Setiap orang memiliki kemampuan dan kelebihan sendiri-sendiri yang memberikan kontribusi bagi hidup kita. **


Frans de Sales, SCJ

Kamis, 04 November 2010

Kamis,4 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)-Membangun Bangsa dengan Semangat Persatuan

Ada seorang kaya mempunyai tiga orang anak laki-laki yang selalu bertengkar. Orang kaya itu sedih karenanya. Namun dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Pada suatu hati ia mendengar salah seorang anaknya berkata kepada yang lain, “Apabila ayah kita meninggal, kita harus membagi harta ini. Karena kita tidak dapat hidup bersama dalam perselisihan terus-menerus.”
Orang kaya itu kaget mendengar perkataan itu. Dia kemudian memanggil ketiga anaknya dan meminta mereka membawa seberkas sapu lidi. Ketika anak-anaknya berkumpul dan menyerahkan sapu, orang kaya itu mengambil satu lidi dan mematahkannya menjadi dua.

Lalu ia menjelaskan, “Lihat! Satu lidi dapat dengan mudah dipatahkan.”

Kemudian dia menyatukan ketiga sapu yang dibawa oleh anak-anaknya dan menyerahkannya kepada salah seorang anaknya. Lantas dia memberi perintah kepada mereka, “Sekarang coba patahkan sapu itu!”

Secara bergilir ketiga anak itu berusaha mematahkannya, tetapi berkas sapu itu tidak dapat dipatahkan. Kemudian ayah itu berkata lagi, “Anak-anakku, jika kalian sendirian kalian lemah. Tetapi jika bersama-sama kalian akan kuat. Jangan bodoh, membiarkan pertengkaran melemahkan persatuan kalian.”

Anak-anak itu pun mengerti dan tidak pernah lagi berselisih.

Gaung persatuan selalu dikumandangkan di negeri ini sejak negeri ini berdiri. Mengapa dibutuhkan persatuan? Karena hanya dengan persatuan itu kita dapat membangun negeri yang kita cintai ini. Hanya melalui persatuan yang teguh kita dapat melangkahkan kaki kita sebagai sebuah bangsa.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa selama perjalanan waktu, bangsa kita juga tergoda untuk melepaskan diri. Ada gerakan-gerakan separatisme. Mereka merasa lebih beruntung memiliki sebuah negara sendiri. Mungkin selama ini mereka merasa kurang diperhatikan sebagai bagian dari negara kesatuan RI. Tentu hal ini patut disayangkan.

Sebagai bangsa yang bersatu, kita semua dipanggil untuk mengambil bagian dalam usaha membangun negeri ini. Negara ini milik semua warga bangsa ini. Negara ini bukan hanya milik orang-orang yang berada di pulau tertentu, kota tertentu. Setiap warga bangsa ini mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap negara kesatuan RI ini.

Setiap tahun kita merayakan proklamasi kemerdekaan RI. Sebagai bangsa, semestinya perayaan ini bukan hanya sebuah upacara seremonial. Tetapi menjadi sebuah perayaan yang penuh makna. Menjadi sebuah perayaan yang membawa setiap warga bangsa ini kepada kesadaran akan kesatuan dan persatuan sebagai sebuah bangsa.

Ada pepatah ‘Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.’ Apa makna pepatah ini bagi kita di jaman sekarang? Artinya, kita ingin membangun kekohonan hidup kita dan bangsa kita melalui persatuan. Hanya dengan persatuan itu, kita dapat membangun sebuah bangsa yang sejahtera, aman dan damai. Mari kita satukan hati dan tekad kita untuk membangun sebuah bangsa yang kuat dalam berbagai bidang kehidupan. **



Frans de Sales, SCJ

Rabu, 03 November 2010

Rabu,3 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)-Memilih Cara-Cara yang Halal

Pada suatu hari seekor rubah menyusuri hutan untuk mencari sebuah sumur tua. Setelah menemukan, rubah berhenti untuk mengagumi bayangan dirinya di dalam air sumur yang jernih itu. Begitu asyiknya mengagumi diri hingga dia terjatuh ke dalam sumur dan tak dapat keluar.
Beberapa lama kemudian datanglah seekor kambing. Kambing menengok ke dalam sumur melibat rubah di dalamnya. Tanya kambing ingin tahu, “Apa yang kau lakukan di situ?”

Jawab rubah singkat, “Menikmati air yang manis dan enak yang tidak pernah kuminum.”

Kambing itu berseru, “Oh sangat menyenangkan! Sungguh nikmat bila aku juga merasakannya.”

Rubah bertanya, “Mengapa engkau tidak ikut denganku?”
Tanpa berpikir panjang, kambing itu melompat ke dalam sumur. Dan secepat kilat rubah melompat ke atas punggung kambing dan keluar dari sumur. Begitu lambat kambing itu menyadari bahwa rubah menipunya. Dia sekarang terperangkap di dalam sumur tua itu.

Di sekeliling kita ada begitu banyak tawaran yang menggiurkan untuk kebutuhan hidup kita. Pertanyaannya, apakah kita mesti mengambil semua tawaran itu bagi hidup kita? Atau kita mesti memiliki sikap yang selektif dan kritis? Rasanya tidak semua tawaran mesti kita ambil. Ada tawaran-tawaran yang sangat berguna bagi hidup kita. Namun ada tawaran-tawaran yang bisa menjerumuskan hidup kita.

Kisah rubah dan kambing dalam sumur di atas menjadi salah satu contoh betapa hidup ini tidak bisa dijalani begitu saja. Hidup ini mesti dijalani dengan penuh pertimbangan dan perhitungan. Kalau orang membangun rumah yang baru, ia mesti duduk membuat perhitungan-perhitungan. Dengan demikian anggaran untuk rumah yang baru itu cukup.

Bagaimana kalau anggaran itu tidak cukup? Ada berbagai cara untuk memenuhi anggaran itu. Ada cara yang halal dengan meminjam di bank atau pinjam sama lembaga. Tetapi ada juga cara yang tidak halal, misalnya dengan korupsi. Orang beriman tentu memilih cara-cara yang halal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bukan dengan cara yang tidak halal.

Cara yang tidak halal itu menyengsarakan diri sendiri di kemudian hari. Misalnya, di saat-saat ini kita menyaksikan ada begitu banyak pejabat atau mantan pejabat yang mesti duduk di kursi pesakitan. Mereka mesti mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan tidak halal mereka di hadapan hakim dan jaksa.

Tetapi cara yang tidak halal itu juga menyengsarakan banyak orang. Semestinya dana yang dianggarkan itu untuk kepentingan banyak orang, tetapi digunakan hanya oleh satu orang. Akibatnya, banyak rakyat menderita. Kelaparan, busung lapar yang terjadi di negeri ini lebih banyak disebabkan oleh hal seperti ini.

Karena itu, orang beriman mesti berani memilih cara-cara yang halal dalam membangun hidupnya. Cara-cara yang halal akan membantu diri dan sesama mengalami kebahagiaan dalam hidup ini. **


Frans de Sales, SCJ

Selasa, 02 November 2010

Selasa,2 November 2010 (Inspirasi Hari Ini)-Berusaha dengan cara yang wajar

Pada suatu waktu ada sekumpulan katak tinggal di pinggir sebuah sungai. Mereka adalah satu keluarga bahagia dengan sejumlah besar anak. Induk katak mengasihi anak-anaknya dan memberi perhatian penuh kepada mereka.

Pada suatu hari induk katak harus pergi berbelanja. Dia berpesan kepada anak-anaknya supaya waspada sementara dia tidak di rumah. Mereka tidak boleh pergi dari luar tepian sungai. Segera sesudah induk katak pergi, katak-katak kecil keluar tepian sungai. Mereka mengira ada sesuatu yang menarik di luar, sehingga induk mereka melarang mereka pergi ke luar.
Kata katak yang tertua kepada saudara-saudarinya, “Mari kita melihat-lihat daerah sekitar ini.”

“Ya mari!” kata mereka beramai-ramai.

Lalu mereka melompat ke padang melewati seekor binatang besar yang sedang berdiri dan mengunyah rumput.

Dengan hati senang anak-anak katak mengamati binatang besar itu. Ketika tiba-tiba binatang besar itu berpaling ke arah mereka dan membunyikan suara, ”Moo!”, anak-anak katak itu berlarian karena takut.

Ketika mereka kembali ke tepi sungai, induk mereka telah menanti. Mereka dimarahi karena nakal. Akan tetapi anak-anak katak itu begitu senang dengan petualangan mereka. Mereka serentak berseru, “Oh Ibu, ada yang ingin kami sampaikan. Di luar ada binatang begitu besar. Dia mempunyai mata besar dan suaranya seperti guruh.”

Induk mereka tersenyum. Si induk kemudian menjelaskan dengan tenang, “Itu sapi yang kamu lihat. Apakah binatang itu sebesar ini?” induk katak bertanya sambil membuka dadanya.

“Tidak, lebih besar dari itu,” jawab anak-anak katak.

“Kalau begitu binatang itu sebesar ini,” kata induk katak sambil merentangkan dadanya lebih besar lagi.
Anak-anak katak itu menggelengkan kepala mereka. Induk katak itu terus merentangkan dadanya hingga ukuran sangat besar. Akan tetapi tiba-tiba terdengar letusan.. Dada induk katak itu pecah.

Banyak orang berusaha untuk meraih ketenaran. Namun mereka tidak memiliki dasar yang kuat. Mereka berusaha, tetapi sering kali mentok di tengah jalan. Segala macam cara ditempuh untuk meraih ketenaran itu. Sampai akhirnya mereka terpuruk dalam derita batin yang luar biasa. Mereka menjadi stress. Hidup kemudian tidak begitu berarti lagi.

Mengapa ini semua bisa terjadi? Kisah tadi menunjukkan bahwa banyak orang ingin menjadi lebih besar dari dirinya yang sebenarnya. Usaha terus-menerus dilakukan. Tetapi akibtanya bisa fatal bagi kehidupannya.

Karena itu, apa yang mesti dibuat oleh orang beriman? Orang beriman boleh berusaha sekuat tenaga untuk memberi makna yang baik bagi hidup ini. Namun orang mesti tahu diri sampai sejauh mana kemampuannya. Kalau mau sungguh-sungguh maju, orang mesti berani untuk bersikap rendah hati. Orang mesti berani mengakui kekurangan dan kelemahannya. Hal ini menjadi starting point yang sangat baik untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Mari kita berusaha untuk menjadi sukses dengan cara-cara yang wajar dan halal. **


Frans de Sales, SCJ