Minggu, 30 Januari 2011

Senin,31 Januari 2011(Inspirasi Hari Ini)-Membangun Komunikasi yang Baik

Seorang remaja kelas tiga SMU sekarang memasuki usia 17 tahun.Remaja tingtinglah.Ia baru saja selesai dengan ujian akhir.Ia sudah dinyatakan lulus.Seperti remaja-remaja pada umumnya,ia juga ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.Ia ingin menjadi sarjana dan kelak memiliki pekerjaan yang baik.Karena itu,setelah menyelesaikan sekolah di kota mpek-mpek Palembang,ini,ia berniat ke Jawa.Ia mau mencoba untuk mandiri.Tidak seperti sekarang,ia selalu tergantung kepada orangtuanya.

Dengan mantab,ia berkata,"saya ingin bebas.Saya ingin belajar hidup sendiri jauh dari orangtua.Tentu saja segala macam kebutuhan masih dari orangtua.Kan belum punya kerjaan.Saya berharap agar dengan hidup jauh dari orangtua itu saya menjadi anak yang lebih dewasa dan matang.Soalnya selama ini segala sesuatu diputuskan oleh orangtua."

Namun ia punya satu persoalan.Orangtuanya tidak mau kehilangan dia.Mereka ingin agar ia tetap tinggal di rumah.Anak itu berkata,"Kata mereka kalau mau kuliah,di Palembang saja.Papi enggan melepaskan saya untuk pergi jauh.Mami malah menangis terus begitu saya menceritakan niat saya.Padahal hati ini ingin belajar mandiri.Sampai kapan saya akan bergantung terus pada orangtua,kalau tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan-keputusan penting mengenai diri sendiri?Kalau jauh dari orangtua kan saya bisa belajar mengambil keputusan-keputusan penting untuk masa depan saya sendiri."

Anak remaja itu heran,kenapa orangtuanya begitu kuatir akan dirinya.

Kebebasan itu dambaan setiap orang.Pada saat tertentu,orang ingin menentukan arah hidupnya sendiri.Tidak tergantung pada keputusan oranglain,bahkan orangtua sekalipun.Mengapa kebebasan seperti ini penting?Karena masa depan seseorang itu ada di tangan orang itu.Ia butuh belajar untuk menyelesaikan segala persoalan sendiri.Ia butuh suasana di mana ia memegang kendali dalam hidupnya sendiri.

Hambatan akan kebebasan itu terjadi sering karena komunikasi kurang berjalan dengan baik.Dalam kisah tadi tampak bahwa orangtua kurang merestui niat baik sang anak untuk belajar mandiri.Tampaknya ada saja missunderstanding antara anak remaja dan orangtua.Mungkin ada ganjalan-ganjalan yang mesti dilewati dulu.
Karena itu,dalam hal kebebasan yang sangat diperlukan adalah adanya komunikasi yang baik dan lancar di antara berbagai pihak.Komunikasi yang kurang baik akan mengakibatkan salah paham.Akibatnya bisa fatal bagi hidup manusia.Kita dapat menyaksikan kurang lancarnya komunikasi telah menyebabkan rapuhnya  kehidupan manusia.Relasi yang baik sulit terwujud.Ada prasangka dan kecurigaan  yang yang terjadi antara sesama manusia.

Karena itu,sebagai orang beriman,kita diajak untuk membangun komunikasi yang baik dan lancar di antara kita.Hal ini akan membantu kita dalam mewujudkan suatu masyarakat yang lebih baik dan manusiawi.Untuk itu,kita mesti bekerja bersama Tuhan.Kita membiarkan Tuhan menguasai diri kita dengan kekuasaanNya.Tuhan memberkati***

Frans de Sales,SCJ

Rabu, 26 Januari 2011

Kamis,27 Januari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Ketika Orang Harus Memilih

Seorang perempuan berusia 25 tahun sudah tiga tahun ini berpacaran dengan seorang pemuda.Pemuda itu pacar pertamanya.Mengingat usianya sudah usia nikah,ia tidak berniat untuk putus hubungan dengan pemuda itu.Lagipula mencari pasangan hidup kan tidak mudah.

Tapi ada hal yang mengganjal di hatinya.Pemuda itu masih ingin bebas dan senang bepergian dengan teman-teman wanitanya yang lain.Kadang hanya berdua saja.Pemuda itu sering ditelpon,dikirimi surat,bahkan dicium oleh teman-teman wanitanya itu.

Pemuda itu tidak pernah memperkenalkan pacarnya dengan teman-temannya atau orangtuanya.Dia hanya bilang ia sudah punya pacar.Dia takut kalau nanti pacarnya itu nanti judes pada teman-teman dan orangtuanya.

Perempuan itu bingung.Apakah pemuda itu dapat setia setelah menikah dengannya?Ia bergulat dengan dirinya sendiri.

Setiap orang merindukan kesetiaan dari kekasih atau sahabat karibnya.Tidak ada orang yang ingin dihianati oleh sesamanya.Apalagi oleh orang yang dicintainya.

Ketidaksetiaan,apapun bentuknya,akan meninggalkan rasa sakit yang begitu mendalam.Bahkan rasa sakit itu bisa bertahan bertahun-tahun lamanya.Dalam kisah tadi,ada kecemasan dari perempuan yang pacarnya punya banyak teman wanita.Persoalannya,apakah ia boleh mempertahankan pacarnya itu?

Sebenarnya perlu disadari bahwa masa pacaran itu bukan harga mati untuk menikah.Banyak orang menikah dengan pacar kedua,ketiga,atau ke sekian.Dalam masa pacaran itu,orang belum terikat.Soalnya adalah banyak anak muda merasa bahwa masa pacaran itu sudah segala-galanya.Akibatnya,ketika ada persoalan selama ini,mereka sering mengalami kegoncangan dalam hidupnya.Bisa-bisa mereka frustasi.

Karena itu,dalam masa pacaran ini semestinya orang tidak perlu memaksakan diri untuk mengikat dengan orang tertentu.Masa pacaran itu masa untuk melihat-lihat.Ibarat orang berada dalam sebuah toko serba ada (toserba).Ada banyak pilihan.Orang tidak harus memilih salah satu dari yang di jual dalam toserba itu.Kalau cocok dengan hati,baru orang dapat memilih atau membeli.Kalau tidak cocok dengan sama sekali,apa gunanya dipilih?Nah,kalau dipaksakan,orang akan menemukan kesulitan-kesulitan lebih besar di kemudian hari.Orang dituntut untuk pandai-pandai,ketika masuk toserba itu.
Jadi bagi mereka yang sedang pacaran,jangan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan.Ingat,kalau sekarang Anda salah memutuskan,akan menjadi bumerang bagi Anda.Tuhan memberkati.***

Frans de Sales,SCJ

Selasa, 25 Januari 2011

Rabu,26 Januari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Cermat dan Pandai Mengatur Ekonomi

Kosultan perencanaan keuangan,Safir Senduk,mengamati banyak orang Indonesia terjebak gaya hidup konsumtif.Mereka seringkali membeli barang karena keinginan,bukan karena memang membutuhkannya.

Ia berkata:"Akibatnya banyak orang terjerat utang.Mereka menjalani hidup dengan 'gali lubang tutup lubang.'Sebaiknya belilah barang sesuai kebutuhan,bukan sesuai keinginan."

Pria yang sudah menulis sejumlah buku tentang perencanaan keuangan keluarga itu memberi saran agar orang membayar tunai saat membeli barang yang nilainya cenderung merosot.Ia berkata,"Mengapa harus membeli kredit jika bisa tunai?Sebab dengan membeli kredit,nilai barang yang di beli makin turun,padahal kita telah membayar dengan harga lebih mahal."

Safir yang juga laris sebagai pembicara di berbagai tempat ini menambahkan,mereka yang berpenghasilan besar belum dapat di katakan kaya jika pengeluarannyapun besar.Sebaliknya mereka yang bergaji kecil,tetapi dapat mengelola keuangan dengan cerdas,bahkan melakukan sejumlah investasi,layak di sebut kaya.Jadi,biar layak di sebut kaya,belilah barang sesuai dengan kebutuhan,bukan keinginan.

Itulah kondisi banyak orang Indonesia sekarang ini.Keinginan untuk menumpuk barang-barang begitu tinggi.Akibatnya,orang mengejar sesuatu memenuhi keinginan dirinya.Apa saja yang dirasa  diinginkan,orang membelinya.Orang kurang seleksi antara apa yang sungguh-sungguh di butuhkan dan apa yang diinginkan.

Banyak orang lalu terjebak dalam suasana hidup konsumeristis.Kalau sudah terjebak,orang akan sulit keluar dari situasi itu.Seorang ibu yang membiasakan anak-anaknya untuk secara selektif dalam berbelanja,misalnya,tidak akan mengalami kesulitan dalam banyak hal.Ia akan dengan mudah mengatur kebutuhan-kebutuhan hidup anak-anaknya.

Karena itu,pengelolaan keuangan dalam keluarga mesti dilakukan secara cermat.Di jaman ekonomi sulit seperti sekarang ini,keluarga-keluarga mesti pandai-pandai menggunakan pendapatannya untuk keberlangsungan hidup keluarga.Untuk itu,mereka mesti memutuskan apa yang sungguh-sungguh di butuhkan dalam hidup mereka.Mereka tidak bisa saja membeli sesuatu untuk memenuhi keinginan mereka belaka.

Sebagai orang beriman,kita di ajak untuk secara cermat dan bijaksana mengatur ekonomi rumah tangga kita.Hal ini juga bagian dari iman kita.Tuhan memberkati***

Frans de Sales,SCJ

Senin, 24 Januari 2011

Selasa,25 Januari 2011(Inspirasi Hari Ini)-Memupuk Kepekaan Terhadap Sesama

Bagi Butet Manurung,salah satu hal yang memprihatinkan dari keberadaan suku orang rimba atau suku anak dalam di pelosok hutan Jambi adalah munculnya proses pengidealan oleh dunia luar.

Ia berkata:"Hidup mereka sering kali di katakan kurang beradab dan salah.Padahal ini masalah perbedaan pandangan saja."

Tergerak pada perjuangan hidup suku orang rimba,ia mengabdikan diri di pedalaman Jambi.Di tempat itu Butet mengenalkan cara membaca,menulis,hingga berbahasa Indonesia kepada anak-anak suku orang rimba.

Ia juga mengajak mereka belajar mengasah keterampilan hidup.Perempuan bernama lengkap Saur Marlina Manurung ini berkata,"Untuk pembelajaran ini,aku menggandeng sukarelawan yang ahli di bidang pertanian.Sekolah kami bukan sekedar mengasah pengetahuan,tetapi bagaimana mempertahankan hidup atau sekolah hdup."

Ia bersama rekannya juga membuka enam sekolah yang tesebar di beberapa daerah,seperti di Sulawesi Selatan,Flores dan Halmahera.Dari enam sekolah itu,hanya dua yang di sokong donatur.Untuk menghidupi sekolah lainnya,ia mengandalkan subsidi silang,yakni penjualan buku hingga menyisihkan sebagian honornya sebagai pembicara.

Perjuangan seorang Butet untuk kemajuan anak bangsa yang tertinggal begitu besar.Ia mengorbankan segala yang ia miliki hanya untuk sesamanya yang menderita.Ia berani mempertaruhkan hidupnya untuk masuk keluar hutan rimba demi kemajuan sesamanya.Inilah iman yang hidup.Orang yang beriman itu menampilkan imannya dalam kepeduliannya terhadap sesama.

Kita hidup dalam dunia yang penuh tantangan.Ada orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan bantuan kita.Ada orang-orang yang perlu di buka pikirannya untuk lebih maju dalam hidup ini.Sebagai makhluk ciptaan Tuhan,kita semua punya tanggungjawab untuk hidup yang lebih baik dari sesama kita.Kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri.KIta hidup juga untuk oranglain.
Butet Manurung sudah memberikan suatu contoh yang begitu baik dan indah bagi kita.Ia menunjukan kepada kita bahwa sebenarnya kita bisa berbuat banyak hal untuk sesama kita.Kita bisa mewujudkan kepedulian kita dengan membantu mereka yang membutuhkan bantuan kita.

Sebagai orang beriman,kita di panggil untuk memiliki kepekaan terhadap sesama dan lingkungan sekitar kita.Kemajuan hidup sesama kita juga mendapatkan pengaruh dari kepedulian dan perhatian kita.Mari kita hidup semakin peka terhadap sesama di sekitar kita.Tuhan memberkati***

Frans de Sales,SCJ

Senin,24 Januari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Mengolah harta untuk Kebahagiaan Hidup

Di sebuah keluarga terjadi keributan antara dua orang anak.Anak pertama sangat suka akan anjing.Ia memiliki tiga ekor anjing kecil dari berbagai ras yang berbeda.Ia memeliharanya dengan penuh perhatian dan kasih sayang.Waktu luangnya ia habiskan unutk ketiga anjing ini.Bahkan uang saku yang di berikan oelh orangtuanya habis untuk membeli makanan bagi ketiga anjingnya.

Kalau ada anggota keluarga yang mengganggu anjing-anjingnya,ia menjadi sangat marah.Ia akan membela mati-matian ketiga anjingnya.Bahkan bisa terjadi perang mulut.

Sementara anak kedua tidak suka memelihara binatang.Waktu-waktu luangnya ia gunakan untuk memelihara tanaman di halaman rumahnya.Ia begitu perhatian terhadap tanaman-tanaman itu.Ia punya koleksi tanaman-tanaman yang mahal dari berbagai jenis tanaman.

Suatu hari anjing-anjing milik kakaknya menggunakan bunga-bunga di halaman rumah itu sebagai teman main.Banyak bunga yang rusak.Sang kakak membiarkan saja anjing-anjing itu menggigit bunga-bunga yang mahal dan indah itu.Tidak lama kemudian datang sang adik yang menendangi anjing-anjing itu satu per satu.Ia marah melihat tanamannya di rusak.Sang kakak tidak bisa menerima perlakuan adiknya terhadap anjing-anjingnya.Mereka pun bertengkar.Keributan besar pun terjadi antara mereka.Mereka hampir saja berkelahi.Unutng sang ibu datang melerai dan mendamaikan keduanya.

Harta dunia yang kita miliki bisa saja menjadi pemicu perpecahan.Keributan bisa terjadi gara-gara apa yang kita senangi di rusak oleh oranglain.Emosi kita bisa meluap-luap,kalau barang yang begitu berharga  dan kita cintai hilang atau rusak.Bisa saja kita tidak bisa tidur berhari-hari hanya memikirkan barang-barang berharga yang hilang atau rusak oleh keteledoran kita.

Kita memang membutuhkan harta atau barang-barang untuk melanjutkan hidup kita.Tidak ada orang yang dapat hidup di dunia ini secara baik,kalau ia tidak memiliki uang atau barang-barang.Karena itu,kita pasti ingin tetap menjaga baik-baik harta kekayaan yang kita miliki.
Namun cinta yang berkebihan terhadap harta kekayaan dapat membawa bencana dalam hidup kita.Kalau kita terlalu terikat pada apa yang kita miliki akan membiarkan barang-barang itu menguasai diri kita.Padahal semestinya kitalah yang menguasai barang-barang atau harta kekayaan itu.

Sebagai orang beriman,kita di ajak untuk menggunakan harta kekayaan itu untuk membangun persaudaraan dan damai.Orang beriman itu sadar bahwa harta kekayaan itu hanyalah sarana untuk kelangsungan hidupnya.Harta kekayaan itu bukan tujuan dari hidup ini.Tujuan utama hidup kita adalah mengalami kebahagiaan dan damai dengan sarana harta yang kita miliki.Percuma kita memiliki harta kekayaan,tetapi hidup kita tidak bahagia.Pecuma kita bekerja mati-matian untuk mengumpulkan harta,tetapi hidup kita selalu di kejar-kejar oleh ketakutan.Tuhan memberkati.**

Frans de Sales,SCJ

Kamis, 20 Januari 2011

Jumat,21 Januari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Berani Berkorban Bagi Sesama

Seorang gadis kesal sama papanya. Soalnya, papanya selalu menasihati dia untuk selalu tekun berdoa dan beribadat. Namun ia sendiri malas untuk melakukan semua itu. Kalau gadis itu mengingatkan papanya untuk berdoa dan beribadat, papanya selalu menegurnya dengan kata-kata yang pedas.
Akibatnya, gadis itu tumbuh menjadi anak yang cuek. Ia tidak begitu peduli terhadap papanya. Ia bosan berbicara dengan papanya. Baginya, tidak ada gunanya berkomunikasi dengan papanya dalam urusan ibadat. Pasti papanya tidak mau kalah, meskipun ia sendiri tidak melaksanakan apa yang ia perjuangkan.

Suatu hari gadis itu merasa sikapnya yang cuek itu mesti ia akhiri. Ia mulai sadar bahwa sebenarnya ia tidak bisa mengubah apa-apa pada diri papanya. Bahkan papanya semakin malas saja untuk berdoa dan beribadat. Ia berkata dalam hatinya, “Lebih baik saya mengubah diri saya sendiri menjadi lebih baik. Saya akan melakukan puasa pada hari-hari tertentu. Saya mau berdoa untuk papa saya, agar ia mau mengubah sikap hidupnya.”

Setelah melakukan puasa dan doa untuk sang papa dalam waktu yang lama, gadis itu menemukan ada perubahan dalam diri papanya. Ia merasa sangat bersyukur atas hal itu. Ia berdoa, “Tuhan, terima kasih Engkau telah mengubah sikap hidup papa saya. Semoga ia dapat menemukan kehadiranMu dalam hidup sehari-hari bersama keluarga kami.”

Banyak orang lebih suka menyaksikan orang lain berubah daripada dirinya sendiri berubah. Dalam kenyataan hidup, sangat sulit mengubah watak seseorang yang sudah dewasa atau sudah tua. Sangat sulit mengajar sesuatu yang baru kepada orang yang sudah tua. Bagi orang yang sudah tua, lebih baik mereka hidup apa adanya. Hidup sejauh mereka mampu.

Kisah gadis tadi menunjukkan bahwa perubahan itu bisa terjadi melalui suatu proses yang lama dan berat. Mengubah cara hidup orang lain yang sudah tertanam puluhan tahun itu butuh kerja keras. Gadis dalam kisah tadi melakukannya dengan korban. Ia mesti puasa dan berdoa, agar papanya dapat mengubah tingkah lakunya yang kurang baik.

Pengorbanan itu ternyata begitu penting dalam hidup sehari-hari. Tanpa korban, orang tidak bisa hidup dengan damai dan tenang. Tanpa korban, perubahan akan sulit terjadi dalam hidup seseorang.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk rela berkorban bagi kebaikan sesama kita. Bahkan kita mesti berani berkorban bagi orang yang tidak bersabahat dengan kita atau musuh-musuh kita. Mampukah kita menjadi sahabat yang baik bagi musuh kita? Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ

Rabu, 19 Januari 2011

Kamis,20 Januari 2011 (Inspirasi Hari Ini)-Menumbuhkan Kepercayaan Dalam Hidup Berkeluarga

Ada seorang ibu yang punya dua orang anak. Setiap hari ia mengantar dan menjemput kedua anak ke sekolah. Sementara suaminya hingga kini tidak pernah peduli terhadap sekolah anak-anaknya. Dia lebih sibuk dengan pekerjaannya untuk menghidupi keluarga. Namun sering kali dia mengomeli ibu itu, kalau ia pulang terlambat setelah mengantar atau menjemput anak-anak.
Sang suami berkata, “Wah, kunjungi pacar lama, ya?” Kata-kata seperti itu sudah sering ia ucapkan kepada istrinya. Istrinya merasa tersinggung setiap kali mendengar kata-kata seperti itu. Ia bertanya dalam hatinya, “Bagaimana mungkin saya masih mau main selingkuh dengan lelaki lain? Saya kan sudah punya anak dan suami? Tidak ada niat sedikit pun kembali ke pacar lama yang juga tinggal di kota ini. Saya sudah menambatkan hati pada suami saya untuk selama hidup. Jadi saya tidak tahu mau buat apa. Sudah capek mengantar dan menjemput anak-anak malah masih dicurigai suami seperti itu.”
Ibu itu sering hilang akal kalau mendengar kata-kata suaminya. Ia juga punya perasaan. Ia tidak ingin hubungannya dengan suaminya menjadi retak. Ia sangat mencintai anak-anaknya. Ia ingin tetap membangun keluarga yang baik. Ia hanya berharap, agar suaminya berubah pikiran. Tidak memikirkan yang bukan-bukan tentang dirinya.

Kurangnya perhatian dari seseorang terhadap orang lain dapat menimbulkan persoalan-persoalan dalam hidup bersama. Apalagi dalam hidup berkeluarga. Sering muncul kecemburuan dalam membangun hidup berkeluarga. Kisah tadi menjadi salah satu contoh betapa kecemburuan itu bisa merenggangkan hubungan suami istri. Kecurigaan bisa terjadi dalam hidup berkeluarga, karena hal-hal yang sepele.

Karena itu, orang mesti mampu berefleksi diri. Artinya, orang mesti berani bertanya diri, ada apa dengan pasangannya. Lantas bagaimana dengan diri sendiri? Mengapa sang suami atau istri sampai tega melemparkan kata-kata yang menusuk perasaan? Mungkinkah ada ketidakjujuran dalam membangun relasi dalam hidup perkawinan?

Sebuah perkawinan yang harmonis itu menuntut pengertian yang mendalam dari kedua belah pihak. Perkawinan yang bahagia itu biasanya ditandai dengan adanya rasa percaya terhadap pasangan. Kepercayaan yang mulai luntur di antara pasangan suami istri sering menjadi pemicu hancurnya sebuah keluarga.

Untuk itu, keluarga-keluarga mesti memperhatikan hal ini. Kepercayaan satu terhadap yang lain mesti dibangun sejak awal. Kepercayaan itu bukan hanya janji-janji hampa di bibir saja. Kepercayaan itu mesti ditunjukkan dalam hidup nyata. Suatu kepercayaan yang tampak dalam tindakan nyata. Mungkinkah dapat terjadi?

Sebagai orang beriman, setiap pasangan suami istri mesti berani membangun kepercayaan di antara mereka. Untuk itu, mereka mesti memiliki cinta yang utuh dalam hidup perkawinan. Cinta mereka tidak bisa sepotong-sepotong. Kalau ini yang terjadi, bukan keharmonisan yang terjadi. Tetapi justru yang terjadi adalah kehancuran dalam hidup berkeluarga. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ