Pertanggungjawabkan Kepercayaan dengan Jujur
Ada seorang
raja yang sudah tua. Ia menyadari bahwa sudah dekat saatnya ia mencari
pewaris kerajaannya. Ia tidak mau mewariskan kerajaannya itu kepada
salah satu dari bawahannya ataupun anaknya. Tetapi ia memutuskan untuk
melakukan sesuatu hal yang berbeda.
Ia memanggil seluruh anak
muda di seluruh kerajaannya. Ia berkata, "Sudah saatnya bagiku untuk
mengundurkan diri dan memilih raja yang baru. Aku memutuskan untuk
memilih salah satu di antara kalian."
Anak-anak muda itu
terkejut! Tetapi raja melanjutkan,"Aku akan memberikan kalian
masing-masing satu bibit hari ini. Satu bibit saja. Bibit ini sangat
istimewa. Aku ingin kalian pulang, menanamnya, merawatnya dan kembali ke
sini lagi tepat 1 tahun dari hari ini dengan membawa hasil dari bibit
yang kuberikan hari ini. Kemudian aku akan menilai hasil yang kalian
bawa Seorang dari kalian yang aku pilih untuk menjadi raja negeri ini!"
Ada seorang anak muda yang bernama Arif yang berada di sana pada hari
itu. Seperti yang lainnya, ia menerima bibit itu. Ia pulang ke rumah dan
dengan antusias memberitahu ibunya tentang apa yang terjadi. Ibunya
membantu Arif menyediakan pot dan tanah untuk bercocok tanam. Arif
menanam bibit itu kemudian menyiraminya dengan hati-hati. Setiap hari ia
selalu menyirami, merawat bibit itu, dan mengamati apakah bibit itu
tumbuh.
Setelah beberapa minggu, beberapa dari anak muda itu
mulai membicarakan mengenai bibit mereka dan tanaman yang telah mulai
tumbuh. Arif pulang ke rumah dan memeriksa bibitnya, tetapi tidak ada
hasilnya. Tiga minggu, 4, 5 minggu berlalu. Tetap tidak ada hasilnya.
Sekarang ini, para anak muda memperbincangkan tentang tanaman mereka,
tetapi bibit Arif tetap belum tumbuh. Ia mulai merasa seperti pecundang.
Enam bulan berlalu, tetap belum tumbuh juga. Ia berpikir bahwa ia telah
membunuh bibit itu. Setiap orang memiliki pohon dan tanaman yang
tinggi, tetapi ia tidak memiliki apa-apa. Arif tidak berkata apa-apa
kepada temannya. Ia tetap menunggu bibitnya tumbuh.
Satu tahun
berlalu sudah. Semua anak muda di seluruh kerajaan membawa tanaman
mereka kepada raja untuk dinilai. Arif putus asa dan tidak ingin pergi
dengan membawa pot yang kosong. Tetapi ibunya memberinya semangat untuk
pergi dan membawa potnya. Arif harus jujur mengenai apa yang terjadi
dengan bibit itu, saran ibunya. Arif sadar, saran ibunya benar. Dan ia
pergi ke istana dengan membawa pot yang kosong. Ketika Arif tiba, ia
kagum melihat berbagai macam tanaman yang dibawa oleh teman-temannya
yang lain. Semuanya indah, dalam ukuran dan bentuk. Arif meletakkan pot
yang kosong itu ke lantai dan banyak orang menertawainya. Beberapa
merasa kasihan kepadanya.
Ketika raja datang, ia mengamati
ruangan itu dan menyalami rakyatnya. Arif berusaha untuk bersembunyi di
bagian belakang. "Wah, betapa indahnya tanaman, pohon, bunga yang kalian
bawa," kata raja. "Hari ini, salah seorang dari kalian akan ditunjuk
menjadi raja selanjutnya!" Seketika, sang raja melihat Arif di belakang
ruangan dengan potnya yang kosong. Ia memerintahkan pengawalnya untuk
membawa Arif ke depan.
Arif sangat ketakutan. "Sang raja tahu aku seorang pecundang! Mungkin ia akan memerintahkan aku untuk dihukum," pikir Arif.
Ketika Arif tiba di depan, sang raja menanyakan namanya. "Namaku Arif," jawab Arif. Semua orang menertawakannya.
Sang raja menenangkan situasi itu. Ia melihat Arif, dan kemudian
mengumumkan ke seluruh kerajaan, "Lihatlah, ini raja kalian yang baru!
Namanya adalah Arif!" Arif tidak mempercayai apa yang barusan dikatakan
raja. Ia bahkan tidak bisa membuat bibit itu tumbuh, mengapa ia bisa
menjadi raja yang baru?
Kemudian sang raja berkata, "Satu tahun
lalu, aku memberikan setiap orang sebuah bibit. Dan kukatakan kepada
kalian untuk mengambilnya, menanamnya, dan merawatnya, kemudian
membawanya kembali kepadaku hari ini. Tetapi aku memberikan kalian bibit
yang sudah direbus sehingga tidak akan bisa tumbuh. Kalian semuanya,
kecuali Arif, membawakanku pohon, tanaman, bunga. Ketika kalian
menyadari bibit itu tidak bisa tumbuh, kalian menukarkan dengan bibit
lain. Hanya Arif yang memiliki keberanian dan kejujuran untuk
membawakanku sebuah pot kosong dengan bibitku di dalamnya. Maka
demikian, ia yang akan menjadi raja yang baru."
Sulit menemukan
orang yang jujur dan berani di jaman ini. Kejujuran itu sangat mahal
harganya. Orang lebih suka menutupi diri dengan berbagai rekayasa demi
mencapai sesuatu. Orang rela mengorbankan kejujuran untuk menggapai
keinginannya.
Sebagai orang beriman, kita diajak untuk tetap
bertahan dalam kejujuran dan berani menanggung resiko. Kita tidak perlu
buat rekayasa atau manipulasi yang hanya menumbuhkan kesenangan sesaat.
Mari kita bawa kejujuran dalam hidup kita sehari-hari. Tuhan memberkati.
**
Frans de Sales, SCJ
sumber:http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2010/05/pertanggungjawabkan-kepercayaan-dengan.html
Kamis, 19 Januari 2012
Senin, 16 Januari 2012
Hidup dalam Semangat Kasih
Hidup dalam Semangat Kasih
Konon ada seorang raja di timur tengah yang sangat lalim. Ia begitu kecanduan akan kekuasaan bagai dewa, sampai dia tidak segan-segan menjatuhkan hukuman mati kepada ayahnya sendiri. Ia tidak peduli terhadap siapa pun. Baginya, yang penting ia dapat memenuhi keinginan hatinya untuk melakukan sesuatu, ia akan lakukan. Ia tidak peduli akibat dari perbuatannya.
Namun ia mesti membayar mahal atas perbuatan-perbuatan kejamnya itu. Suatu hari anak sulungnya menggerakkan tentara penjaga istana untuk melawan sang raja. Ia menangkap ayahnya, merantai dan menjebloskannya ke dalam penjara. Kemudian ia memerintahkan agar ayahnya dibawa menghadapnya.
Ia menuduh kejahatan dan kekejaman ayahnya dengan berkata, “Karena kamu telah membunuh ayahmu, saya akan menjatuhkan hukuman yang sama.”
Lantas ia memerintahkan tentara istana untuk membunuh ayahnya. Ayahnya meninggal setelah dimasukkan ke jurang yang sangat dalam. Ayahnya mati perlahan-lahan di dalam jurang itu.
Namun hukuman yang hampir sama menimpa anak sulung itu. Karena kekejamannya terhadap rakyat dan ayahnya, ia ditangkap, disiksa dan dihukum mati. Ngerinya lagi adalah ia juga dihukum mati oleh orang yang sangat dekat dengannya, yaitu istrinya sendiri. Istrinya tidak ingin melihat penderitaan rakyat yang berlarut-larut. Ia meminta salah seorang pengawal suaminya untuk membunuhnya.
Kalau Tuhan kita jadikan raja dalam hidup kita tentu tidak akan sekejam dua raja dalam kisah di atas. Tuhan kita pasti memerintah umatNya tidak dengan tangan besi. Pasti Tuhan memerintah dengan penuh kasih sayang. Mengapa? Yang dimiliki oleh Tuhan hanyalah kasih. Pada hakekatnya Tuhan itu kasih. Dengan kasih itu, Tuhan menghendaki agar kita berjuang menghidupkan kasih itu dalam hidup kita sehari-hari.
Tuhan yang adalah kasih itu ingin merepotkan diri untuk hadir di tengah-tengah umatNya. Tuhan itu tidak hanya tinggal jauh dalam singgasana surgawi. Tetapi Tuhan juga hadir dalam hati manusia. Ia hidup dan menggerakkan hati manusia untuk berbuat kasih bagi sesama. Karena itu, perbuatan baik kita manusia mesti berasal dari Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu. Kalau perbuatan kasih kita hanya didorong oleh keinginan manusiawi kita, maka yang timbul adalah balas dendam, iri, cemburu dan kompetisi yang tidak sehat. Tetapi kalau perbuatan baik kita sungguh-sungguh dilandasi oleh kasih Tuhan, saya yakin kita akan bertumbuh menjadi orang-orang yang tetap setia kepada Tuhan.
Karena itu, jabatan atau kedudukan yang kita miliki, apa pun bentuknya, mesti menjadi suatu bentuk ungkapan kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Jabatan atau kedudukan tidak dipakai hanya untuk keuntungan diri sendiri. Jabatan atau kedudukan itu mesti digunakan untuk kesejahteraan semua orang. Untuk itu, seorang yang beriman mesti menghindari kesewenang-wenangan. Orang yang beriman mesti mengandalkan kedudukannya atau jabatannya untuk memperjuangkan martabat dan kehormatan manusia. Ia tidak menindas sesamanya. Ia tidak menjadikan sesamanya sebagai obyek kekuasaan atau kedudukannya. Ia memandang sesamanya sebagai orang yang mesti diperjuangkan hak-haknya. Orang beriman itu aktif membela sesamanya yang menderita.
Mari kita terus-menerus berjuang untuk kesejahteraan manusia seutuhnya. Kita mau agar masyarakat kita menjadi suatu masyarakat yang damai, rukun dan saling membantu dalam semangat kasih dan persaudaraan. Tuhan yang hidup di dalam diri kita pasti akan menggerakkan usaha-usaha baik kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
sumber : http://inspirasi-renunganpagi.blog
spot.com/2010/04/hidup-dalam-semangat-kasih.html
Konon ada seorang raja di timur tengah yang sangat lalim. Ia begitu kecanduan akan kekuasaan bagai dewa, sampai dia tidak segan-segan menjatuhkan hukuman mati kepada ayahnya sendiri. Ia tidak peduli terhadap siapa pun. Baginya, yang penting ia dapat memenuhi keinginan hatinya untuk melakukan sesuatu, ia akan lakukan. Ia tidak peduli akibat dari perbuatannya.
Namun ia mesti membayar mahal atas perbuatan-perbuatan kejamnya itu. Suatu hari anak sulungnya menggerakkan tentara penjaga istana untuk melawan sang raja. Ia menangkap ayahnya, merantai dan menjebloskannya ke dalam penjara. Kemudian ia memerintahkan agar ayahnya dibawa menghadapnya.
Ia menuduh kejahatan dan kekejaman ayahnya dengan berkata, “Karena kamu telah membunuh ayahmu, saya akan menjatuhkan hukuman yang sama.”
Lantas ia memerintahkan tentara istana untuk membunuh ayahnya. Ayahnya meninggal setelah dimasukkan ke jurang yang sangat dalam. Ayahnya mati perlahan-lahan di dalam jurang itu.
Namun hukuman yang hampir sama menimpa anak sulung itu. Karena kekejamannya terhadap rakyat dan ayahnya, ia ditangkap, disiksa dan dihukum mati. Ngerinya lagi adalah ia juga dihukum mati oleh orang yang sangat dekat dengannya, yaitu istrinya sendiri. Istrinya tidak ingin melihat penderitaan rakyat yang berlarut-larut. Ia meminta salah seorang pengawal suaminya untuk membunuhnya.
Kalau Tuhan kita jadikan raja dalam hidup kita tentu tidak akan sekejam dua raja dalam kisah di atas. Tuhan kita pasti memerintah umatNya tidak dengan tangan besi. Pasti Tuhan memerintah dengan penuh kasih sayang. Mengapa? Yang dimiliki oleh Tuhan hanyalah kasih. Pada hakekatnya Tuhan itu kasih. Dengan kasih itu, Tuhan menghendaki agar kita berjuang menghidupkan kasih itu dalam hidup kita sehari-hari.
Tuhan yang adalah kasih itu ingin merepotkan diri untuk hadir di tengah-tengah umatNya. Tuhan itu tidak hanya tinggal jauh dalam singgasana surgawi. Tetapi Tuhan juga hadir dalam hati manusia. Ia hidup dan menggerakkan hati manusia untuk berbuat kasih bagi sesama. Karena itu, perbuatan baik kita manusia mesti berasal dari Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu. Kalau perbuatan kasih kita hanya didorong oleh keinginan manusiawi kita, maka yang timbul adalah balas dendam, iri, cemburu dan kompetisi yang tidak sehat. Tetapi kalau perbuatan baik kita sungguh-sungguh dilandasi oleh kasih Tuhan, saya yakin kita akan bertumbuh menjadi orang-orang yang tetap setia kepada Tuhan.
Karena itu, jabatan atau kedudukan yang kita miliki, apa pun bentuknya, mesti menjadi suatu bentuk ungkapan kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Jabatan atau kedudukan tidak dipakai hanya untuk keuntungan diri sendiri. Jabatan atau kedudukan itu mesti digunakan untuk kesejahteraan semua orang. Untuk itu, seorang yang beriman mesti menghindari kesewenang-wenangan. Orang yang beriman mesti mengandalkan kedudukannya atau jabatannya untuk memperjuangkan martabat dan kehormatan manusia. Ia tidak menindas sesamanya. Ia tidak menjadikan sesamanya sebagai obyek kekuasaan atau kedudukannya. Ia memandang sesamanya sebagai orang yang mesti diperjuangkan hak-haknya. Orang beriman itu aktif membela sesamanya yang menderita.
Mari kita terus-menerus berjuang untuk kesejahteraan manusia seutuhnya. Kita mau agar masyarakat kita menjadi suatu masyarakat yang damai, rukun dan saling membantu dalam semangat kasih dan persaudaraan. Tuhan yang hidup di dalam diri kita pasti akan menggerakkan usaha-usaha baik kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
sumber : http://inspirasi-renunganpagi.blog
spot.com/2010/04/hidup-dalam-semangat-kasih.html
Jumat, 13 Januari 2012
Iman yang Hidup
Iman yang Hidup
Di suatu daerah terjadi kelaparan. Banyak anak yang mengalami gizi buruk. Ada yang mengalami busung lapar. Kondisi tubuh mereka sangat mengenaskan. Sementara orang-orang dewasa tampak kurus kering. Tiada makanan bergizi yang dapat membuat mereka tumbuh dengan baik. Akibat lanjut dari gizi buruk bagi anak-anak itu adalah pertumbuhan otak mereka juga terhambat.
Selidik punya selidik, ternyata akibat dari kelaparan yang melanda daerah itu adalah kaum lelaki malas bekerja. Yang bekerja di ladang dan sawah hanya kaum ibu. Sedangkan kaum lelaki menghabiskan waktu mereka di meja judi. Pagi-pagi buta kaum ibu itu berangkat ke sawah atau ladang. Mereka tidak sempat lagi menyiapkan makan untuk anak-anak mereka. Mereka baru tiba kembali di rumah pada sore hari. Akibatnya, anak-anak mereka terlantar. Apalagi suami-suami mereka tidak peduli terhadap anak-anak mereka.
Kelaparan tidak bisa dielakkan. Namun kaum lelaki tetap cuek. Mereka melanjutkan kebiasaan bermain judi. Mereka memaksa istri-istri mereka untuk memberi mereka uang untuk berjudi. Kalau tidak diberi, kaum istri itu menjadi sasaran pukulan. Mereka juga tidak segan-segan menggadaikan tanah yang mereka miliki untuk berjudi.
Salah satu penyebab kemiskinan adalah kemalasan. Dalam suasana malas itu orang tidak bisa berpikir kreatif. Seolah-olah tidak ada jalan untuk keluar dari kungkungan kemiskinan itu. Dalam keadaan seperti ini orang cenderung mencari yang enak dan menyenangkan bagi diri sendiri. Orang tidak peduli bahwa mereka juga makhluk sosial yang mesti terlibat dalam kehidupan bersama. Orang tidak peduli bahwa hidup mereka juga memiliki fungsi untuk memajukan kehidupan bersama.
St Paulus mengatakan bahwa kalau orang tidak bekerja janganlah ia makan. Melalui kerja seseorang mengekspresikan seluruh hidupnya. Melalui kerja orang mengungkapkan imannya kepada Tuhan yang disembahNya. Orang yang beriman itu tidak hanya mengungkapkan imannya dengan rajin beribadat dan berdoa. Tetapi orang yang beriman itu juga menghayati imannya dalam hidup yang nyata dengan bekerja untuk mencari nafkah.
Bekerja atau memiliki pekerjaan juga merupakan wujud tanggung jawab kita terhadap masyarakat di sekitar kita. Orang yang bekerja menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk memajukan masyarakatnya. Dengan gaji yang ia miliki, ia dapat menyumbang kepada masyarakat melalui pajak. Ia tidak menyumbang pengangguran kepada masyarakat. Ia tidak menyumbang kemiskinan kepada masyarakat di mana ia hidup.
Orang yang beragama itu orang yang selalu menghayati imannya dalam hidup sehari-hari. Bekerja atau memiliki pekerjaan yang baik itu menjadi suatu penghayatan iman kepada Tuhan. Karena itu, kesadaran untuk bekerja merupakan suatu tuntutan terhadap seorang yang beriman. Ia tidak cukup hanya mengatakan ia seorang beriman dengan rajin beribadat dan berdoa. Iman itu mesti ditunjukkan dalam perbuatan nyata. Caranya adalah dengan bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan sesama.
Kalau orang berani menyingsingkan lengan baju untuk bekerja keras bagi diri dan sesama, imannya sungguh-sungguh hidup. Karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Iman yang hidup itu mesti tampak dalam perbuatan yang nyata pula.
Karena itu, mari kita berjuang untuk menghayati iman kita dengan bekerja yang benar dan rajin. Itulah bagian dari iman kita kepada Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang. Sambil berdoa dan beribadat kepada Tuhan, kita terus bekerja untuk melepaskan diri dan masyarakat kita dari belenggu kemiskinan. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
sumber : http://
inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2010/05/iman-yang-hidup.html
Di suatu daerah terjadi kelaparan. Banyak anak yang mengalami gizi buruk. Ada yang mengalami busung lapar. Kondisi tubuh mereka sangat mengenaskan. Sementara orang-orang dewasa tampak kurus kering. Tiada makanan bergizi yang dapat membuat mereka tumbuh dengan baik. Akibat lanjut dari gizi buruk bagi anak-anak itu adalah pertumbuhan otak mereka juga terhambat.
Selidik punya selidik, ternyata akibat dari kelaparan yang melanda daerah itu adalah kaum lelaki malas bekerja. Yang bekerja di ladang dan sawah hanya kaum ibu. Sedangkan kaum lelaki menghabiskan waktu mereka di meja judi. Pagi-pagi buta kaum ibu itu berangkat ke sawah atau ladang. Mereka tidak sempat lagi menyiapkan makan untuk anak-anak mereka. Mereka baru tiba kembali di rumah pada sore hari. Akibatnya, anak-anak mereka terlantar. Apalagi suami-suami mereka tidak peduli terhadap anak-anak mereka.
Kelaparan tidak bisa dielakkan. Namun kaum lelaki tetap cuek. Mereka melanjutkan kebiasaan bermain judi. Mereka memaksa istri-istri mereka untuk memberi mereka uang untuk berjudi. Kalau tidak diberi, kaum istri itu menjadi sasaran pukulan. Mereka juga tidak segan-segan menggadaikan tanah yang mereka miliki untuk berjudi.
Salah satu penyebab kemiskinan adalah kemalasan. Dalam suasana malas itu orang tidak bisa berpikir kreatif. Seolah-olah tidak ada jalan untuk keluar dari kungkungan kemiskinan itu. Dalam keadaan seperti ini orang cenderung mencari yang enak dan menyenangkan bagi diri sendiri. Orang tidak peduli bahwa mereka juga makhluk sosial yang mesti terlibat dalam kehidupan bersama. Orang tidak peduli bahwa hidup mereka juga memiliki fungsi untuk memajukan kehidupan bersama.
St Paulus mengatakan bahwa kalau orang tidak bekerja janganlah ia makan. Melalui kerja seseorang mengekspresikan seluruh hidupnya. Melalui kerja orang mengungkapkan imannya kepada Tuhan yang disembahNya. Orang yang beriman itu tidak hanya mengungkapkan imannya dengan rajin beribadat dan berdoa. Tetapi orang yang beriman itu juga menghayati imannya dalam hidup yang nyata dengan bekerja untuk mencari nafkah.
Bekerja atau memiliki pekerjaan juga merupakan wujud tanggung jawab kita terhadap masyarakat di sekitar kita. Orang yang bekerja menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk memajukan masyarakatnya. Dengan gaji yang ia miliki, ia dapat menyumbang kepada masyarakat melalui pajak. Ia tidak menyumbang pengangguran kepada masyarakat. Ia tidak menyumbang kemiskinan kepada masyarakat di mana ia hidup.
Orang yang beragama itu orang yang selalu menghayati imannya dalam hidup sehari-hari. Bekerja atau memiliki pekerjaan yang baik itu menjadi suatu penghayatan iman kepada Tuhan. Karena itu, kesadaran untuk bekerja merupakan suatu tuntutan terhadap seorang yang beriman. Ia tidak cukup hanya mengatakan ia seorang beriman dengan rajin beribadat dan berdoa. Iman itu mesti ditunjukkan dalam perbuatan nyata. Caranya adalah dengan bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan sesama.
Kalau orang berani menyingsingkan lengan baju untuk bekerja keras bagi diri dan sesama, imannya sungguh-sungguh hidup. Karena iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Iman yang hidup itu mesti tampak dalam perbuatan yang nyata pula.
Karena itu, mari kita berjuang untuk menghayati iman kita dengan bekerja yang benar dan rajin. Itulah bagian dari iman kita kepada Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang. Sambil berdoa dan beribadat kepada Tuhan, kita terus bekerja untuk melepaskan diri dan masyarakat kita dari belenggu kemiskinan. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
sumber : http://
inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2010/05/iman-yang-hidup.html
Selasa, 10 Januari 2012
Kasih Itu Sumber Hidup Manusia
Kasih Itu Sumber Hidup Manusia
Adalah suatu rahmat Tuhan saya dapat berjumpa dengan Percy N. Khambatta, pendeta agama Zarathustra. Penampilannya yang sederhana dengan pakaian putih-putih hingga topi, menampakkan suatu kesejukan tersendiri. Bicaranya sangat sederhana. Ia selalu menatap wajah lawan bicaranya sebagai tanda hormat dan perhatian.
Meski baru pertama kali berjumpa, tidak ada rasa asing di antara kami. Padahal agama kami berbeda. Warga negara kami juga berbeda. Dia seorang warga negara Singapura yang menginjakkan kaki di kota mpek-mpek Palembang, karena tragedi jatuhnya pesawat Silk Air di Sungsang, Sumatera Selatan, 19 Desember 1997.
Kami berjumpa dalam acara peresmian monumen Silk Air untuk menghormati dan mendoakan 104 korban di pemakaman Kebun Bunga, 19 Desember 1998 silam. Saya adalah satu-satunya ulama Indonesia yang diundang untuk mendoakan arwah para korban itu. Sementara semua ulama yang lain, dari berbagai agama, berasal dari Singapura.
Saya memang buta mengenai Agama Zarathustra. Yang terlintas dalam pikiran saya cuma nama pendirinya, yaitu Zoroaster yang memulai agamanya di Iran ribuan tahun silam. Tetapi soal inti ajarannya? Saya buta! Karena itu, saya berdialog dengan Khambatta. Saya ingin tahu.
“Our religion teaches us to be good person,” kata Khambatta. Artinya, agama kami mengajar kami untuk menjadi orang baik.
Menjadi orang baik! Itulah titik tolaknya. Lantas dalam hidup sehari-hari agama Zarathustra merealisasikannya dalam good thoughts (berpikir baik), good words (berkata baik) dan good deeds (berbuat baik).
Falsafahnya sangat sederhana. Seandainya semua orang memiliki falsafah seperti itu, tentu dunia akan jadi lain. Dunia ini akan menjadi tempat manusia memanen damai, kasih, persaudaraan sejati. Bukan badai kekacauan seperti yang sudah, sedang dan akan kita alami dan kita saksikan dalam hidup kita sehari-hari. Tentu dunia ini akan selalu diwarnai oleh suasana hidup yang saling menghormati. Hak-hak asasi manusia sungguh-sungguh dihargai. Tidak perlu lagi ada diskriminasi terhadap suku, agama, dan ras atau etnis tertentu. Semua hidup dalam damai.
“Most of all, we have to love each other,” kata Khambatta. Artinya, yang terpenting adalah kita mesti saling mengasihi. Bukankah ini sungguh-sungguh indah?
Untuk merealisasikan kasih itu, Khambatta, yang mengaku sebagai pendeta part time karena jumlah umat Zarathustra di Singapura sangat sedikit (202 orang), memberi makan kepada kaum fakir miskin yang datang ke restorannya di Jalan Orchard 391, Singapura.
Kasih! Satu kata inilah yang mesti menjadi pegangan hidup setiap orang yang beriman kepada Tuhan. Kiranya setiap agama dan kepercayaan mengajarkan tentang kasih. Kasih menjadi andalan utama setiap agama dan kepercayaan. Kasih ini menjadi jimat kita orang beriman. Karena ketika orang mengingkari kasih, yang terjadi justru kegalauan. Ketika mata manusia terkatup rapat karena benci, iri hati kehancuranlah yang ditemukan. Pengampunan tidak terjadi dalam kehidupan ini kalau orang mengabaikan kasih kepada sesamanya.
St Paulus berkata, “Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya.”
Apa artinya ungkapan ini bagi orang beriman? Artinya, kasih itu mesti menjadi nyata dalam hidup sehari-hari. Kasih itu diungkapkan dalam perbuatan nyata seperti rela mengampuni yang bersalah, tidak cemburu, ramah terhadap sesama, memberikan pertolongan kepada yang berkesusahan dan masih banyak lagi perbuatan baik lainnya. Kalau hal-hal ini terjadi dalam hidup yang nyata, dunia ini menjadi tempat yang aman untuk dihuni. Lingkungan di mana kita hidup dipenuhi dengan suasana yang menyenangkan.
Mari kita mempraktekkan kasih itu dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih bermakna bagi hidup semua orang. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
sumber : http://inspirasi-renunganpagi.blog
spot.com/2010/04/kasih-itu-sumber-hidup-manusia.html
Adalah suatu rahmat Tuhan saya dapat berjumpa dengan Percy N. Khambatta, pendeta agama Zarathustra. Penampilannya yang sederhana dengan pakaian putih-putih hingga topi, menampakkan suatu kesejukan tersendiri. Bicaranya sangat sederhana. Ia selalu menatap wajah lawan bicaranya sebagai tanda hormat dan perhatian.
Meski baru pertama kali berjumpa, tidak ada rasa asing di antara kami. Padahal agama kami berbeda. Warga negara kami juga berbeda. Dia seorang warga negara Singapura yang menginjakkan kaki di kota mpek-mpek Palembang, karena tragedi jatuhnya pesawat Silk Air di Sungsang, Sumatera Selatan, 19 Desember 1997.
Kami berjumpa dalam acara peresmian monumen Silk Air untuk menghormati dan mendoakan 104 korban di pemakaman Kebun Bunga, 19 Desember 1998 silam. Saya adalah satu-satunya ulama Indonesia yang diundang untuk mendoakan arwah para korban itu. Sementara semua ulama yang lain, dari berbagai agama, berasal dari Singapura.
Saya memang buta mengenai Agama Zarathustra. Yang terlintas dalam pikiran saya cuma nama pendirinya, yaitu Zoroaster yang memulai agamanya di Iran ribuan tahun silam. Tetapi soal inti ajarannya? Saya buta! Karena itu, saya berdialog dengan Khambatta. Saya ingin tahu.
“Our religion teaches us to be good person,” kata Khambatta. Artinya, agama kami mengajar kami untuk menjadi orang baik.
Menjadi orang baik! Itulah titik tolaknya. Lantas dalam hidup sehari-hari agama Zarathustra merealisasikannya dalam good thoughts (berpikir baik), good words (berkata baik) dan good deeds (berbuat baik).
Falsafahnya sangat sederhana. Seandainya semua orang memiliki falsafah seperti itu, tentu dunia akan jadi lain. Dunia ini akan menjadi tempat manusia memanen damai, kasih, persaudaraan sejati. Bukan badai kekacauan seperti yang sudah, sedang dan akan kita alami dan kita saksikan dalam hidup kita sehari-hari. Tentu dunia ini akan selalu diwarnai oleh suasana hidup yang saling menghormati. Hak-hak asasi manusia sungguh-sungguh dihargai. Tidak perlu lagi ada diskriminasi terhadap suku, agama, dan ras atau etnis tertentu. Semua hidup dalam damai.
“Most of all, we have to love each other,” kata Khambatta. Artinya, yang terpenting adalah kita mesti saling mengasihi. Bukankah ini sungguh-sungguh indah?
Untuk merealisasikan kasih itu, Khambatta, yang mengaku sebagai pendeta part time karena jumlah umat Zarathustra di Singapura sangat sedikit (202 orang), memberi makan kepada kaum fakir miskin yang datang ke restorannya di Jalan Orchard 391, Singapura.
Kasih! Satu kata inilah yang mesti menjadi pegangan hidup setiap orang yang beriman kepada Tuhan. Kiranya setiap agama dan kepercayaan mengajarkan tentang kasih. Kasih menjadi andalan utama setiap agama dan kepercayaan. Kasih ini menjadi jimat kita orang beriman. Karena ketika orang mengingkari kasih, yang terjadi justru kegalauan. Ketika mata manusia terkatup rapat karena benci, iri hati kehancuranlah yang ditemukan. Pengampunan tidak terjadi dalam kehidupan ini kalau orang mengabaikan kasih kepada sesamanya.
St Paulus berkata, “Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya.”
Apa artinya ungkapan ini bagi orang beriman? Artinya, kasih itu mesti menjadi nyata dalam hidup sehari-hari. Kasih itu diungkapkan dalam perbuatan nyata seperti rela mengampuni yang bersalah, tidak cemburu, ramah terhadap sesama, memberikan pertolongan kepada yang berkesusahan dan masih banyak lagi perbuatan baik lainnya. Kalau hal-hal ini terjadi dalam hidup yang nyata, dunia ini menjadi tempat yang aman untuk dihuni. Lingkungan di mana kita hidup dipenuhi dengan suasana yang menyenangkan.
Mari kita mempraktekkan kasih itu dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih bermakna bagi hidup semua orang. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
sumber : http://inspirasi-renunganpagi.blog
spot.com/2010/04/kasih-itu-sumber-hidup-manusia.html
Senin, 09 Januari 2012
Menjadi Pelopor Perdamaian
Menjadi Pelopor Perdamaian
Suatu hari seorang anak kecil berdoa dengan sangat khusyuk di dalam rumah ibadat. Matanya berkaca-kaca. Ia berdoa, “Tuhan, Hatiku sedang galau saat ini. Begitu banyak kekerasan yang terjadi. Banyak teman-temanku yang terkapar mati. Mereka tidak berdosa, Tuhan. Tetapi kenapa mereka menjadi korban kekerasan seperti perang, kekerasan dalam rumah tangga?”
Anak berusia sepuluh tahun ini berdoa demikian, karena setiap hari ia mengikuti berita-berita TV dan membaca surat kabar yang terbit di kotanya. Hatinya terasa perih, ketika ia menyaksikan setiap kekejaman manusia terhadap sesamanya. Betapa tidak, ada anak yang dibunuh oleh orangtuanya seperti sedang sembelih ayam. Ada lagi anak-anak yang mati karena serangan para tentara di Irak atau bom bunuh diri di Pakistan.
“Tuhan, aku takut kalau dunia ini semakin menjadi tempat pembantaian terhadap teman-temanku. Mungkin aku juga dapat menjadi sasaran tangan-tangan yang haus darah. Aku takut, Tuhan,” doa anak itu lagi.
Ketakutan anak itu memang beralasan. Setiap saat kita dapat menyaksikan kekejaman yang terjadi di seantero dunia ini. Seolah-olah dunia ini bukan lagi menjadi tempat yang aman bagi langkah-langkah manusia. Mengapa semua ini bisa terjadi?
Salah satu sebab terjadinya peristiwa-peristiwa keji itu adalah hati manusia yang egois. Manusia hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri. Padahal manusia itu makhluk sosial yang mesti hidup berdampingan secara selaras dengan sesamanya. Melukai hati sesama berarti melukai diri sendiri. Padahal Tuhan selalu mengasihi seluruh ciptaanNya. Ia menghendaki ciptaanNya tidak menderita.
Karena itu, sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, kita semua diajak untuk menghentikan kekerasan dalam bentuk apa pun. Untuk itu, kita mesti mulai dari diri kita sendiri. Kita membuka hati kita untuk kasih Tuhan yang begitu besar kepada kita. Kita biarkan kasih Tuhan itu bekerja di dalam diri kita. Mengapa demikian? Karena kasih merupakan inti hidup manusia. Manusia tidak dapat hidup tanpa kasih.
Sebagai orang beriman, kita mesti mengandalkan kasih itu bagi hidup kita sehari-hari. Tuhan mengasihi semua orang yang memiliki hasrat baik bagi kehidupan. Untuk itu, kita mulai dari diri kita sendiri. Kita mau mengasihi orang yang dekat dengan kita. Kita mau memberantas kejahatan dan kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Dengan demikian, kita dapat menciptakan suatu hidup yang damai dengan semua orang di sekitar kita.
Damai itu akan terjadi kalau kita memiliki niat baik untuk keselamatan seluruh ciptaan Tuhan. Siapkah kita menjadi pelopor-pelopor perdamaian di dunia ini?
Setiap hari kita mengalami begitu banyak hal baik bagi diri kita. Ada begitu banyak perhatian dari orang-orang di sekitar kita bagi hidup kita. Karena itu, kita ingin mensyukurinya. Kita berharap, Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu senantiasa menyertai kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
sumber : http://inspirasi-renunganpagi.blog
spot.com/2010/04/
menjadi-pelopor-perdamaian.html
Suatu hari seorang anak kecil berdoa dengan sangat khusyuk di dalam rumah ibadat. Matanya berkaca-kaca. Ia berdoa, “Tuhan, Hatiku sedang galau saat ini. Begitu banyak kekerasan yang terjadi. Banyak teman-temanku yang terkapar mati. Mereka tidak berdosa, Tuhan. Tetapi kenapa mereka menjadi korban kekerasan seperti perang, kekerasan dalam rumah tangga?”
Anak berusia sepuluh tahun ini berdoa demikian, karena setiap hari ia mengikuti berita-berita TV dan membaca surat kabar yang terbit di kotanya. Hatinya terasa perih, ketika ia menyaksikan setiap kekejaman manusia terhadap sesamanya. Betapa tidak, ada anak yang dibunuh oleh orangtuanya seperti sedang sembelih ayam. Ada lagi anak-anak yang mati karena serangan para tentara di Irak atau bom bunuh diri di Pakistan.
“Tuhan, aku takut kalau dunia ini semakin menjadi tempat pembantaian terhadap teman-temanku. Mungkin aku juga dapat menjadi sasaran tangan-tangan yang haus darah. Aku takut, Tuhan,” doa anak itu lagi.
Ketakutan anak itu memang beralasan. Setiap saat kita dapat menyaksikan kekejaman yang terjadi di seantero dunia ini. Seolah-olah dunia ini bukan lagi menjadi tempat yang aman bagi langkah-langkah manusia. Mengapa semua ini bisa terjadi?
Salah satu sebab terjadinya peristiwa-peristiwa keji itu adalah hati manusia yang egois. Manusia hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri. Padahal manusia itu makhluk sosial yang mesti hidup berdampingan secara selaras dengan sesamanya. Melukai hati sesama berarti melukai diri sendiri. Padahal Tuhan selalu mengasihi seluruh ciptaanNya. Ia menghendaki ciptaanNya tidak menderita.
Karena itu, sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, kita semua diajak untuk menghentikan kekerasan dalam bentuk apa pun. Untuk itu, kita mesti mulai dari diri kita sendiri. Kita membuka hati kita untuk kasih Tuhan yang begitu besar kepada kita. Kita biarkan kasih Tuhan itu bekerja di dalam diri kita. Mengapa demikian? Karena kasih merupakan inti hidup manusia. Manusia tidak dapat hidup tanpa kasih.
Sebagai orang beriman, kita mesti mengandalkan kasih itu bagi hidup kita sehari-hari. Tuhan mengasihi semua orang yang memiliki hasrat baik bagi kehidupan. Untuk itu, kita mulai dari diri kita sendiri. Kita mau mengasihi orang yang dekat dengan kita. Kita mau memberantas kejahatan dan kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Dengan demikian, kita dapat menciptakan suatu hidup yang damai dengan semua orang di sekitar kita.
Damai itu akan terjadi kalau kita memiliki niat baik untuk keselamatan seluruh ciptaan Tuhan. Siapkah kita menjadi pelopor-pelopor perdamaian di dunia ini?
Setiap hari kita mengalami begitu banyak hal baik bagi diri kita. Ada begitu banyak perhatian dari orang-orang di sekitar kita bagi hidup kita. Karena itu, kita ingin mensyukurinya. Kita berharap, Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu senantiasa menyertai kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
sumber : http://inspirasi-renunganpagi.blog
spot.com/2010/04/
menjadi-pelopor-perdamaian.html
Jumat, 06 Januari 2012
Belajar dari Pengalaman Hidup
Belajar dari Pengalaman Hidup
Suatu hari seorang teman mengunjungi saya. Sudah lama sekali kami tidak berjumpa. Karena itu, kami mencurahkan rasa rindu kami dengan obrolan-obrolan masa lalu. Topik pembicaraan yang paling dominan dalam pembicaraan itu tentang live in di Solo, Jawa Tengah. Dalam live in itu, kami tinggal bersama suatu masyarakat dalam waktu yang tidak lama. Tujuan live ini adalah merasakan dan mengalami cara hidup warga setempat.
Ia mengenang kembali saat-saat, ketika ia bersama seorang tukang sampah (betulan) mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah.
“Apa komentar warga waktu itu?”tanya teman saya itu, mengingatkan saya.
“Ada yang kasihan sama kita. Ada yang bilang, orang bersih-bersih gitu kok mau jadi tukang sampah,” kata saya.
Teman saya itu tertawa terkekeh-kekeh. Memang, kebanyakan warga kurang begitu mengenal para tukang sampah (betulan) yang hampir setiap hari berkeliling itu. Karena itu, mereka pun tidak tahu, kalau ada sejumlah mahasiswa yang sedang live in alias merasakan kehidupan nyata bersama orang-orang kecil. Ketidaktahuan warga itu menjadi sesuatu yang sangat diharapkan. Mengapa? Karena kalau warga sudah tahu identitas para mahasiswa itu, sudah dapat dipastikan bahwa mereka tidak tega melihat para mahasiswa itu berlepotan kotoran sampah yang berasal dari rumah mereka.
“Saya merasakan bahwa pengalaman live in itu sesuatu yang berguna bagi persiapan saya untuk menjadi seorang pemimpin. Sayang, saya tidak menjadi pemimpin besar di masyarakat. Tetapi toh pengalaman seperti itu tetap saya bawa hingga kini. Saya menjadi lebih peduli terhadap mereka yang kurang mampu,” kata teman saya yang kini sudah menjadi seorang bapak keluarga dengan dua orang anak ini.
Pengalaman hidup sehari-hari sering menjadi guru yang sangat berharga dalam mendidik seseorang memaknai hidup ini. Para pemimpin yang pernah mengalami hal ini akan memperhatikan rakyat yang mereka pimpin. Pengalaman live in itu sesuatu yang sangat berharga dalam proses pembinaan mereka.
Gunungan sampah yang pernah mereka sentuh dapat mengajari mereka bahwa ada warna-warni kehidupan yang mesti mereka jamah dan alami. Kehidupan ini tidak hanya riak-riak kecil nan biasa yang mengalir begitu saja. Kehidupan ini ternyata memiliki suatu makna perjuangan, kalau itu didalami sungguh-sungguh.
Pengalaman ini tentu akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan hidup seorang pemimpin. Presiden Sukarno banyak ditempa oleh perjumpaan dengan masyarakat kecil. Ketika ia dibuang di berbagai tempat di Tanah Air, ia belajar banyak dari mereka. Ia menjadi seorang pemimpin yang sangat peduli terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Karena itu, perjuangannya untuk kemerdekaan bangsa ini merupakan suatu perjuangan yang total. Sebagai orang beriman, apakah kita juga berjuang secara total untuk kebahagiaan sesama kita? Ataukah kita masih hanya berkutat dengan diri kita sendiri? Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
sumber : http://inspirasi-renunganpagi.blog
spot.com/2010/04/belajar-dari-pengalaman-hidup.html
Suatu hari seorang teman mengunjungi saya. Sudah lama sekali kami tidak berjumpa. Karena itu, kami mencurahkan rasa rindu kami dengan obrolan-obrolan masa lalu. Topik pembicaraan yang paling dominan dalam pembicaraan itu tentang live in di Solo, Jawa Tengah. Dalam live in itu, kami tinggal bersama suatu masyarakat dalam waktu yang tidak lama. Tujuan live ini adalah merasakan dan mengalami cara hidup warga setempat.
Ia mengenang kembali saat-saat, ketika ia bersama seorang tukang sampah (betulan) mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah.
“Apa komentar warga waktu itu?”tanya teman saya itu, mengingatkan saya.
“Ada yang kasihan sama kita. Ada yang bilang, orang bersih-bersih gitu kok mau jadi tukang sampah,” kata saya.
Teman saya itu tertawa terkekeh-kekeh. Memang, kebanyakan warga kurang begitu mengenal para tukang sampah (betulan) yang hampir setiap hari berkeliling itu. Karena itu, mereka pun tidak tahu, kalau ada sejumlah mahasiswa yang sedang live in alias merasakan kehidupan nyata bersama orang-orang kecil. Ketidaktahuan warga itu menjadi sesuatu yang sangat diharapkan. Mengapa? Karena kalau warga sudah tahu identitas para mahasiswa itu, sudah dapat dipastikan bahwa mereka tidak tega melihat para mahasiswa itu berlepotan kotoran sampah yang berasal dari rumah mereka.
“Saya merasakan bahwa pengalaman live in itu sesuatu yang berguna bagi persiapan saya untuk menjadi seorang pemimpin. Sayang, saya tidak menjadi pemimpin besar di masyarakat. Tetapi toh pengalaman seperti itu tetap saya bawa hingga kini. Saya menjadi lebih peduli terhadap mereka yang kurang mampu,” kata teman saya yang kini sudah menjadi seorang bapak keluarga dengan dua orang anak ini.
Pengalaman hidup sehari-hari sering menjadi guru yang sangat berharga dalam mendidik seseorang memaknai hidup ini. Para pemimpin yang pernah mengalami hal ini akan memperhatikan rakyat yang mereka pimpin. Pengalaman live in itu sesuatu yang sangat berharga dalam proses pembinaan mereka.
Gunungan sampah yang pernah mereka sentuh dapat mengajari mereka bahwa ada warna-warni kehidupan yang mesti mereka jamah dan alami. Kehidupan ini tidak hanya riak-riak kecil nan biasa yang mengalir begitu saja. Kehidupan ini ternyata memiliki suatu makna perjuangan, kalau itu didalami sungguh-sungguh.
Pengalaman ini tentu akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan hidup seorang pemimpin. Presiden Sukarno banyak ditempa oleh perjumpaan dengan masyarakat kecil. Ketika ia dibuang di berbagai tempat di Tanah Air, ia belajar banyak dari mereka. Ia menjadi seorang pemimpin yang sangat peduli terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Karena itu, perjuangannya untuk kemerdekaan bangsa ini merupakan suatu perjuangan yang total. Sebagai orang beriman, apakah kita juga berjuang secara total untuk kebahagiaan sesama kita? Ataukah kita masih hanya berkutat dengan diri kita sendiri? Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
sumber : http://inspirasi-renunganpagi.blog
spot.com/2010/04/belajar-dari-pengalaman-hidup.html
Kamis, 29 Desember 2011
Jumat,30 Desember 2011~Pentingnya Pertobatan
Pentingnya Pertobatan
Beberapa tahun lalu seorang pembunuh
akan dihukum mati di salah satu negara bagian di Amerika Serikat yang
memberlakukan hukuman mati. Kakak dari pembunuh itu, yang pernah berjasa
besar bagi negara, memohon kepada gubernur negara bagian untuk
mengampuni adiknya itu.
Permohonannya dikabulkan. Lantas ia
mengunjungi saudaranya di penjara dengan surat pengampunan di sakunya.
Setelah diijinkan untuk menemui adiknya, ia bertanya, “Apa yang akan
kamu lakukan, jika kamu menerima pengampunan?”
Tanpa basa-basi,
adiknya itu menjawab, “Hal pertama yang akan saya lakukan adalah
melacak hakim yang menghukum saya. Kalau sudah ketemu, saya akan
membunuhnya.”
Kakaknya terkejut, katanya, “Kamu sudah gila!”
Adiknya tidak peduli dengan kata-kata kakaknya. Ia melanjutkan, “Hal
kedua adalah saya akan melacak saksi-saksi yang memberatkan saya. Kalau
sudah ketemu, saya akan membunuh mereka juga.”
Kakaknya tidak
bisa mengerti ungkapan hati adiknya. Serentak ia berdiri lalu
meninggalkan ruangan sel itu dengan surat pengampunan di sakunya.
Apakah yang jahat selalu jahat? Semestinya tidak. Orang jahat bisa
menjadi orang baik, kalau ia bertobat. Kalau ia mengakui semua kejahatan
yang pernah dilakukannya dan mau kembali ke jalan yang benar. Tetapi
pembunuh dalam kisah di atas tetap memendam kebencian di dalam hatinya.
Ia merasa bahwa orang yang berlaku tidak adil terhadapnya mesti
dilenyapkan. Padahal seandainya ia mau bertobat, ia tidak perlu
mendapatkan hukuman mati. Ia dapat bebas dan melanjutkan hidup ini
secara normal.
Seringkali dendam itu terjadi karena orang
dikuasai oleh emosi yang tidak tertahankan. Emosi seperti ini dapat
membawa bencana bagi hidup sendiri dan bagi hidup banyak orang. Karena
itu, orang mesti menyadari bahwa ketika ia sedang dilanda emosi, ia
mesti hati-hati. Ia tidak boleh mengambil keputusan dalam keadaan
seperti itu. Setiap keputusan yang diambil ketika orang dikuasai oleh
emosi akan berakibat fatal bagi hidupnya.
Sebenarnya emosi
dalam diri kita itu bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat positif
bagi hidup kita. Pertama-tama orang mesti berusaha meredam emosinya dan
mengalihkannya ke sesuatu yang bersifat positif. Dengan demikian orang
akan menghasilkan sesuatu yang baik bagi hidupnya.
Emosi yang
diolah itu akan membawa keuntungan-keuntungan bagi hidup bersama juga.
Orang tidak mudah membalas dendam terhadap orang yang melakukan
kesalahan terhadapnya. Orang mudah untuk memaafkan sesamanya. Orang juga
mudah untuk bertobat atas segala perbuatan jeleknya terhadap sesama.
Setiap hari kita selalu menimba kebaikan-kebaikan dari sesama. Mari
kita bawa semua kebaikan itu dalam hidup ini. Kita tetap membuka hati
kita terhadap Tuhan yang begitu mengasihi kita. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales, SCJ
sumber: http://inspirasi-renunganpagi.blog
spot.com/2010/04/pentingnya-pertobatan.html
Langganan:
Postingan (Atom)





