Kamis, 26 Januari 2012

Berlaku Adil terhadap Sesama

Berlaku Adil terhadap Sesama



Seorang tukang permata yang miskin, tetapi jujur dipenjarakan atas tuduhan kejahatan yang pernah dibuatnya. Dia ditempatkan di dalam sebuah penjara yang tinggi dan ketat terlindung di tengah pusat kota. Pada suatu hari, ketika dia sudah dipenjarakan berbulan-bulan, istrinya datang ke gerbang utama. Wanita itu mengatakan kepada para penjaga tentang suaminya, tukang permata yang miskin tetapi sangat saleh dan seorang pendoa. Dia akan hilang tanpa tikar sembahyangnya yang sederhana. Tidakkah mereka mengijinkan dia untuk memiliki satu-satunya harta ini? Para penjaga setuju, karena itu tidak merugikan dan memberikan kepadanya tikar sembahyang. Lima kali sehari dia membuka tikarnya dan berdoa.

Banyak minggu telah berlalu. Pada suatu hari tukang permata itu berkata kepada para penjaga, “Saya bosan duduk saja di sini dari hari ke hari tanpa berbuat sesuatu. Saya seorang tukang permata yang trampil. Bila tuan-tuan membiarkan saya memiliki potongan-potongan logam dan beberapa alat sederhana, saya akan membuat untuk Anda permata. Tuan-tuan dapat menjual itu di pasar untuk menambah gaji tuan-tuan yang rendah. Saya hanya meminta sedikit saja, sekedar mengisi waktu luang dan tetap mempertahankan ketrampilan saya.”

Para penjaga itu setuju. Hari-hari berlalu, menjadi minggu dan bulan. Pada suatu pagi yang cerah, ketika para penjaga sampai pada sel tukang permata, ternyata sel itu kosong. Tidak ditemukan tanda bagaimana dia dapat meloloskan diri. Beberapa waktu kemudian, penjahat yang sesungguhnya dipenjarakan. Tuduhan terhadap tukang permata itu memang palsu.

Pada suatu hari, di pasar kota, lama sesudah pelarian diri si tukang permata, salah seorang penjaga bertemu dengan mantan narapidana: tukang permata itu. Segera petugas penjara itu menjelaskan bahwa penjahat yang sebenarnya sudah tertangkap. Kemudian dia bertanya kepada tukang permata bagaimana dia dapat meloloskan diri. Tukang permata itu menceritakan kisah yang menarik.

Istrinya sudah pergi kepada arsitek utama yang merancang pembangunan penjara. Istrinya memperoleh dari arsitek itu denah pintu-pintu dan kunci-kunci sel. Kemudian denah itu disulam pada tikar sembahyang. Setiap hari ketika dia berdoa, kepalanya menyentuh denah itu. Perlahan, dia mulai melihat bahwa di dalam denah yang satu dan yang lainnya, ada rancangan kunci pintu selnya. Dari sisa-sisa logam dan dengan alat-alat sederhana, dia membentuk sebuah kunci dan melarikan diri. Penjaga itu sangat tercengang mendengar kisah itu. Luar biasa akal sang tukang permata.

Dari kisah ini kita diajarkan betapa manfaat kreatifitas dapat mengubah hidup manusia. Orang yang tidak bersalah mesti dilepaskan dari hukuman. Namun karena hukum tidak fair, maka orang yang tidak bersalah mesti menggunakan kelihaiannya untuk membebaskan diri.

Kita semua dipanggil untuk membebaskan diri dan sesama yang tidak bersalah dari kecurangan dan ketidakadilan yang sering terjadi di dunia ini. Tugas orang beriman adalah menegakkan keadilan bagi hidupnya dan bagi sesama. Pertanyaanya, sudahkah kita memperjuangkan kebenaran selama hari ini? Atau apakah kita terlibat dalam ketidakadilan terhadap sesama? Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

sumber : http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/2010/05/berlaku-adil-terhadap-sesama.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar